Paket Biawak dan Malam Penuh Teror: Suara Sunyi Mahasiswa Papua di Surabaya

0
6
Foto: gambar ilustrasi (istimewa)

Lsatu.net, Surabaya – Matahari belum sepenuhnya naik di langit Tambaksari, Surabaya, ketika suara ketukan pelan terdengar dari luar pagar Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan.

 

Seorang warga berdiri ragu di depan pintu, menggenggam sesuatu yang janggal sebuah karung beras besar, 50 kilogram, berisi seekor biawak hidup.

 

“Katanya ada yang titip,” ucap warga itu, seperti menyampaikan kabar biasa. Tapi satu kalimat yang menyusul kemudian membuat waktu seakan berhenti bagi para penghuni asrama.

 

“Biasa makan biawak?

 

Seketika, hawa siang yang lembab terasa berubah menjadi pengap. Beberapa mahasiswa keluar, mencoba memastikan siapa yang mengirimkan paket aneh itu. Tapi sosok-sosok yang mengantarnya sudah pergi. Mereka hanya meninggalkan pesan samar: teror dalam bentuk paling nyata.

 

Di Tengah Kota, Ketakutan Itu Nyata

 

Kisah itu terjadi pada Kamis, 19 Juni 2025. Hari yang seharusnya biasa, berubah menjadi awal dari rentetan ketegangan. Bukan hanya karena biawak hidup yang dikirim ke asrama, tetapi juga karena spanduk dan poster bernada kebencian yang mendadak muncul di sekitar tempat tinggal mahasiswa Papua di Surabaya.

 

Tulisan besar dalam huruf kapital berwarna mencolok menyuarakan tuduhan tanpa dasar:

 

“MASYARAKAT SURABAYA HARUS TAHU!!! ALIANSI MAHASISWA PAPUA AMP ADALAH KELOMPOK SEPARATIS…”

 

Bagi Hengky, salah satu anggota Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) di Surabaya, ini lebih dari sekadar bentuk intimidasi. Ini adalah bentuk pembungkaman. Sebab semua ini terjadi bersamaan saat mereka hendak menyuarakan agenda aksi tentang anti-militerisme dan investasi di Papua.

 

Langkah-Langkah Senyap di Tengah Malam

 

Namun teror tak hanya datang di siang hari. Di tengah gelap, ketika sebagian kota terlelap, beberapa orang yang diduga aparat intelijen datang diam-diam ke kontrakan mahasiswa Papua.

 

Jam menunjukkan pukul 00.42 WIB. Tak ada suara keras, tak ada keributan. Hanya bisikan dan provokasi terhadap petugas keamanan setempat untuk mengawasi aktivitas para penghuni kontrakan.

 

“Seolah kami bukan lagi mahasiswa,” ujar Hengky lirih. “Tapi ancaman yang harus diamati.”

 

Teror yang Menyelinap Lewat Layar Ponsel

 

Malam yang sama, ketenangan tak kunjung datang. Melalui WhatsApp, dari dua nomor asing, mereka menerima pesan-pesan ancaman yang dingin dan penuh kebencian.

 

“Kami berada di sampingmu.”
“Kami akan membunuhmu.”

 

Tak hanya ancaman pembunuhan, isi pesan juga sarat dengan kata-kata rasis, penuh intimidasi dan diskriminasi. Kata-kata yang mungkin tampak pendek di layar, tapi cukup tajam untuk menggores batin.

 

Bertahan dalam Sunyi, Melawan dengan Damai

 

Mereka datang ke Surabaya bukan untuk berperang, melainkan untuk belajar. Di tengah semangat kuliah dan aktivitas organisasi, mereka kini dipaksa hidup dalam ketakutan yang terus mengintai. Tapi meski ketakutan itu nyata, suara mereka belum padam.

 

“Ini semua tidak akan membuat kami berhenti,” tegas Hengky. “Kami tahu apa yang kami perjuangkan.”

 

Ketika Biawak Jadi Simbol Ketegangan

 

Di balik kisah tentang seekor biawak hidup yang dikirim ke asrama, tersembunyi kenyataan getir tentang represi yang masih menghantui mahasiswa Papua. Teror, stigmatisasi, hingga kekerasan psikologis masih menjadi bayang-bayang yang nyata.

 

Namun mereka tetap berdiri. Di Surabaya, di ujung jalan kecil bernama Kalasan, ada sekelompok mahasiswa yang terus memelihara harapan tentang tanah air yang adil, tentang suara yang didengar, bukan dibungkam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini