Lsatu.net, Gresik – Di tengah riuh pusat perbelanjaan yang biasanya dipenuhi lalu-lalang pengunjung, Kamis (2/4/2026), ada suasana yang berbeda di salah satu mal di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Sejumlah anak dengan senyum polos, tatapan khas, dan gerak tubuh yang mungkin tak selalu mudah dipahami, justru menjadi pusat perhatian.
Hari itu, mereka tidak sedang diminta menyesuaikan diri dengan dunia. Sebaliknya, dunia sedang diajak untuk lebih memahami mereka.
Momentum peringatan Hari Autis Sedunia dalam kegiatan Akses Nyata Gerakan Kesetaraan Anak Spektrum Autisme (Angkasa) menjadi panggung penting untuk menegaskan satu hal anak-anak dengan spektrum autisme bukan untuk dikasihani, melainkan untuk diterima, dirangkul, dan diberi ruang yang setara.
Di hadapan para orang tua, pendamping, tenaga pendidik, dan masyarakat yang hadir, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani atau Gus Yani menyampaikan komitmen yang terdengar sederhana, namun sesungguhnya sangat mendasar menjadikan Gresik sebagai kabupaten yang inklusif dan ramah bagi anak-anak dengan spektrum autisme.
“Anak-anak kita yang istimewa ini harus terus bisa mengakses pelayanan publik maupun layanan lainnya. Kita dorong kesetaraan agar tidak ada perbedaan,” ujar Gus Yani.
Pernyataan itu bukan sekadar sambutan seremonial. Di baliknya, tersimpan pesan yang lebih dalam bahwa kesetaraan bagi anak-anak berkebutuhan khusus tidak boleh berhenti pada slogan, spanduk, atau unggahan peringatan tahunan. Kesetaraan harus hadir dalam kebijakan, dalam ruang kelas, di fasilitas layanan, bahkan di dalam cara masyarakat memandang mereka.
Ketika Penerimaan Menjadi Langkah Pertama

Bagi Gus Yani, langkah pertama membangun Gresik yang inklusif dimulai dari sesuatu yang paling mendasar, tetapi sering kali justru paling sulit dilakukan menerima tanpa syarat.
Ia menolak cara pandang yang masih kerap melekat pada anak-anak autis dipandang “berbeda” dengan nada yang menyudutkan, dibanding-bandingkan dengan anak lain, atau lebih buruk lagi, dilabeli nakal hanya karena ekspresi dan respons mereka tak sama dengan kebanyakan anak.
“Jangan melihat mereka dengan kacamata kompetisi. Jangan sampai ada anggapan keliru bahwa anak autis itu nakal. Itu salah besar,” tegasnya.
Kalimat itu seperti teguran halus bagi masyarakat luas. Sebab dalam banyak kasus, tantangan terbesar yang dihadapi anak dengan spektrum autisme bukan semata kondisi yang mereka alami, melainkan lingkungan yang belum cukup sabar untuk memahami.
Di titik inilah, inklusi bukan lagi sekadar istilah pendidikan. Ia menjelma menjadi sikap sosial. Tentang bagaimana keluarga, tetangga, guru, hingga petugas layanan publik memandang anak-anak istimewa itu sebagai bagian utuh dari kehidupan bersama.
Negara yang Hadir, Bahkan Sampai Menjemput

Komitmen itu, kata Gus Yani, juga harus diterjemahkan ke dalam layanan yang nyata. Karena bagi banyak keluarga dengan anak berkebutuhan khusus, perjuangan tidak berhenti pada penerimaan sosial. Ada urusan terapi, pendampingan, biaya, jarak, transportasi, hingga stamina emosional yang harus dijalani setiap hari.
Pemerintah Kabupaten Gresik, menurut dia, telah menjalankan layanan melalui UPT layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Bahkan, untuk memastikan akses tidak terhenti hanya karena jarak, pemerintah menyiapkan layanan penjemputan gratis bagi warga yang membutuhkan.
“Kalau ada masyarakat Gresik yang membutuhkan layanan terapi atau lainnya, silakan koordinasi dengan UPT. Bahkan kita punya layanan penjemputan gratis. Kalau akomodasinya jauh, tinggal telepon, mobil sudah ada dan sudah berjalan,” ungkapnya.
Bagi sebagian orang, mungkin itu terdengar seperti fasilitas biasa. Namun bagi orang tua yang setiap hari harus mengatur waktu, tenaga, dan biaya demi memastikan anaknya tetap mendapatkan terapi, layanan jemput gratis bisa berarti lebih dari sekadar transportasi.
Ia adalah bentuk kehadiran negara yang terasa dekat. Hadir bukan hanya dalam regulasi, tetapi juga di jalanan, di depan rumah, dan di perjalanan menuju harapan.
Keluarga, Rumah Pertama yang Menentukan

Namun, sebaik apa pun kebijakan dibuat, Gus Yani mengingatkan bahwa rumah tetap menjadi ruang pertama dan paling penting bagi tumbuh kembang anak-anak dengan spektrum autisme.
Ia menaruh perhatian besar pada peran keluarga sebagai fondasi utama: tempat anak-anak menerima kasih sayang, kesabaran, pendampingan, dan rasa aman.
Dalam banyak kisah, keluarga adalah benteng pertama dari stigma. Sekaligus pelita pertama yang membuat anak-anak itu percaya bahwa mereka berharga.
“Keluarga punya peranan penting. Memberikan perhatian lebih untuk anak-anak kita yang istimewa ini. Mudah-mudahan semua diberi kemudahan dan kesabaran,” katanya.
Di balik kalimat itu, tersimpan realitas yang tidak ringan. Mengasuh anak berkebutuhan khusus sering kali menuntut kesabaran berlapis, tenaga ekstra, dan kekuatan mental yang tak sedikit. Ada hari-hari ketika kemajuan terasa lambat.
Ada masa ketika orang tua harus menjawab tatapan heran, pertanyaan yang tak sensitif, atau penilaian yang melukai. Karena itu, dukungan untuk anak autis sesungguhnya juga berarti dukungan untuk keluarganya.
Kesetaraan yang Menjangkau Masa Depan

Yang menarik, komitmen Pemkab Gresik tidak berhenti pada anak-anak. Gus Yani menegaskan bahwa semangat kesetaraan juga harus menjangkau mereka yang tumbuh dewasa dengan spektrum autisme dan disabilitas lainnya.
Di dunia yang masih sering menutup pintu bagi mereka yang dianggap “tak sesuai standar”, membuka kesempatan kerja adalah langkah penting yang mengubah cara pandang.
Menurut Gus Yani, saat ini sudah ada 15 instansi pemerintah di Gresik yang membuka ruang penerimaan tanpa syarat. Selain itu, terdapat 11 perusahaan BUMN dan BUMD, serta 46 perusahaan swasta yang telah memberikan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas dan anak-anak istimewa.
“Ini bentuk nyata kesetaraan. Mudah-mudahan ke depan semakin banyak perusahaan yang peduli dan memberi kesempatan,” ujarnya.
Angka-angka itu bukan sekadar data administratif. Ia adalah tanda bahwa inklusi mulai bergerak dari ruang diskusi menuju ruang kerja. Dari sekadar wacana kepedulian menjadi kesempatan yang benar-benar membuka masa depan.
Saat Jumlah Meningkat, Kesadaran Tak Boleh Tertinggal
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Gresik S. Hariyanto menegaskan bahwa peringatan Hari Autis Sedunia bukan hanya seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa masyarakat perlu terus belajar memahami anak berkebutuhan khusus.
Ia menyebut, ada lima tujuan utama dari kegiatan ini: meningkatkan kesadaran keluarga dan masyarakat, mempromosikan inklusi sosial, mengadvokasi hak asasi manusia, mendorong deteksi dini dan intervensi, serta merayakan keunikan dan potensi yang dimiliki penyandang autisme.
“Tujuan acara ini adalah agar anak-anak autis dan anak-anak istimewa mendapat perhatian kita semua,” ujarnya.
Hariyanto juga mengungkapkan bahwa tren jumlah anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan spektrum autisme, di Gresik terus meningkat dari waktu ke waktu.
“Trennya terus naik dari hari ke hari. Karena itu ini menjadi perhatian kita bersama agar semangat kesetaraan terus digaungkan, supaya masyarakat dan keluarga memahami serta menerima keberadaan anak-anak istimewa,” katanya.
Pernyataan itu menyiratkan satu pesan penting: ketika jumlah anak berkebutuhan khusus terus bertambah, maka kesadaran sosial tidak boleh tertinggal. Semakin banyak anak yang membutuhkan ruang, semakin luas pula masyarakat harus membuka hati.
Sekolah Tak Boleh Lagi Menutup Pintu
Di sektor pendidikan, pesan yang disampaikan juga tegas. Hariyanto menekankan bahwa tidak boleh ada lagi sekolah formal yang menolak anak autis atau anak berkebutuhan khusus.
Saat ini, Gresik memiliki delapan Sekolah Luar Biasa (SLB), baik negeri maupun swasta. Namun semangat pendidikan inklusif, kata dia, tidak boleh berhenti di sana.
Seluruh satuan pendidikan formal harus mulai bertransformasi menjadi ruang belajar yang terbuka, adaptif, dan menghargai keberagaman cara anak bertumbuh.
“Tidak boleh ada sekolah formal yang menolak anak autis atau anak berkebutuhan khusus. Semua harus diterima dan diberi layanan sesuai bakat dan minat mereka,” tegasnya.
Kalimat itu terdengar seperti garis batas yang jelas: sekolah bukan tempat untuk menyeleksi siapa yang layak belajar, melainkan tempat untuk memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Lebih dari Sekadar Peringatan
Peringatan Hari Autis Sedunia di Gresik tahun ini seolah menegaskan bahwa perjuangan menuju masyarakat inklusif memang masih panjang, tetapi langkah-langkahnya sudah mulai nyata.
Di balik gemerlap pusat perbelanjaan, di antara keramaian yang biasa terasa serba cepat, ada pesan yang mengendap pelan namun kuat bahwa anak-anak dengan spektrum autisme tidak meminta diperlakukan istimewa.
Mereka hanya ingin diterima sebagai manusia seutuhnya dengan hak yang sama untuk belajar, tumbuh, bermain, berinteraksi, dan kelak bekerja.
Dan mungkin, di situlah makna kesetaraan yang sesungguhnya. Bukan ketika semua anak dipaksa menjadi sama. Melainkan ketika setiap perbedaan diberi tempat untuk hidup dengan bermartabat. (BA)



