Duka dari Selat Bali: Kisah Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya yang Membawa 65 Jiwa

0
8
Foto: (istimewa)
Lsatu.net, Banyuwangi – Malam itu, langit Selat Bali berselimut kelam. Angin berembus pelan, seakan ikut menyimpan kecemasan yang belum sempat terucap. Di antara riak gelombang laut yang tampak tenang, KMP Tunu Pratama Jaya berangkat menunaikan tugasnya, membawa puluhan jiwa dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi menuju Gilimanuk, Bali.

 

Namun takdir berkata lain. Sekitar 25 menit setelah lepas jangkar, kapal itu hilang dari pandangan. Tepat pukul 22.56 WIB, Rabu malam, 2 Juli 2025, tanda bahaya mulai terasa. Dan hanya berselang kurang dari setengah jam kemudian, pada pukul 23.20 WIB, kapal yang membawa 53 penumpang, 12 kru, dan 22 kendaraan termasuk 14 truk tronton dinyatakan tenggelam di perairan gelap Selat Bali.

 

“Kejadian ini terlihat oleh petugas jaga Syahbandar. Kami langsung bergerak cepat, menghubungi Basarnas dan instansi terkait,” tutur Nanang Sigit, Kepala Kantor SAR Surabaya yang juga menjabat sebagai SAR Mission Coordinator, Kamis (3/7/2025).

 

Seketika, suasana di Pelabuhan Ketapang berubah muram. Tangis para keluarga dan kerabat mulai terdengar, bersaing dengan bunyi sirine kapal penyelamat yang datang satu per satu. Malam itu menjadi saksi bisu perjuangan antara waktu, ombak, dan harapan yang menipis.

 

Basarnas mengerahkan tim dari Pos SAR Banyuwangi, lengkap dengan Rigid Inflatable Boat, menyisir satu per satu kemungkinan lokasi tenggelamnya kapal. Dari seberang Selat, tim dari Pos SAR Jembrana pun turut datang membantu. Bahkan, kapal khusus penyelamat, KN SAR Permadi, telah disiagakan untuk mendukung operasi besar ini.

 

Duka belum benar-benar jatuh, tapi kecemasan sudah membekap udara. Di setiap upaya pencarian, ada doa yang menyelinap di antara gelombang. Setiap orang yang diselamatkan, adalah kabar bahagia yang ditunggu puluhan keluarga yang menanti dalam diam, menatap laut yang kini tak hanya membawa harapan, tapi juga duka yang belum selesai.

 

“Saat ini unsur SAR gabungan terus melakukan pencarian. Kami berpacu dengan waktu, melawan arus, dan menggantungkan harapan pada langit yang masih belum bersuara,” lanjut Nanang.

 

Hingga berita ini ditulis, upaya pencarian masih berlangsung. Gelombang bergulung dalam keheningan yang getir. Mereka yang menunggu di daratan, menggenggam harap dengan tangan gemetar agar orang-orang tercinta kembali, agar duka ini tak bertambah panjang.

 

Dalam tragedi ini, kita tak hanya kehilangan kapal. Kita dihadapkan pada betapa rapuhnya hidup di tengah samudera luas. Kita belajar bahwa setiap perjalanan, meski biasa, selalu membawa kemungkinan luar biasa antara selamat, atau selamanya tinggal dalam kenangan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini