Lsatu.net, Sidoarjo – Muhammad Zahrawi (17) santri Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Kabupaten Sidoarjo, asal Bangkalan, Madura, lolos dari maut karena meninggalkan shaf salat Ashar untuk ke kamar mandi.
Santri kelas 10 itu menceritakan, saat itu dirinya sudah bersiap mengikuti salat berjemaah di musala. Namun beberapa detik sebelum salat dimulai, ia keluar dari barisan jamaah karena ingin buang air kecil.
“Saya keluar shaf untuk pipis. Saat saya sampai di kamar mandi pipis, tiba-tiba terdengar suara gemuruh keras dari arah musala,” kata Zahrawi, Selasa (30/9/2025).
Ketika ia kembali, pemandangan yang disaksikan sungguh memilukan. Musala sudah rata dengan reruntuhan bangunan, jamaah salat tertimbun beton. “Saya sempat melihat tiga orang santri MTs meninggal tertimbun reruntuhan,” kata Zahrawi.
Menurut Zahrawi, sebelum kejadian, seorang santri yang membantu pembangunan sempat mengingatkan bahwa bangunan di atas mulai bergerak tidak stabil. Namun informasi tersebut tak sempat sampai ke pengurus, lantaran sebagian besar tengah melaksanakan salat Ashar.
Bangunan musala yang ambruk berada di lantai satu. Musibah ini dipicu ketidakmampuan struktur menahan beban bangunan baru yang tengah dibangun hingga lantai tiga. Diduga, beban cor dan material terlalu berat sehingga lantai dasar tidak kuat menopang.
Sejumlah korban berhasil dievakuasi, sementara puluhan lainnya masih dalam pencarian. Proses evakuasi diperkirakan membutuhkan waktu panjang, mengingat bangunan yang ambruk cukup besar, material berat, dan lokasi musala berada di bagian tengah kompleks pondok.
Tragedi ini meninggalkan duka mendalam, sekaligus menjadi pengingat betapa rapuhnya kehidupan. Zahrawi, yang selamat karena alasan sederhana, mengaku tak pernah menyangka hidupnya masih diselamatkan. “Saya masih diberi umur panjang, terima kasih Ya Allah,” ujarnya. (DK)



