Kanwil Kemenag Jatim Angkat Bicara Soal Ambruknya Bangunan Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo

0
9
Foto: (istimewa)

Lsatu.net, Sidoarjo – Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur, Imam Turmidi angkat bicara soal peristiwa ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo.

Dia menyampaikan rasa prihatin mendalam atas musibah tersebut dan berjanji akan memberikan perhatian khusus terhadap proses penanganan pasca kejadian itu.

“Kami dari Kementerian Agama, dalam hal ini Menteri Agama, tentu menyampaikan rasa prihatin atas terjadinya musibah ini. Harapan kami, mudah-mudahan korban yang masih belum ditemukan segera bisa dievakuasi dan mendapat penanganan terbaik,” ujarnya, Senin (29/9/2025).

Lebih lanjut, pihaknya menegaskan bahwa setiap bentuk bantuan dari Kemenag akan tetap diawasi agar tepat sasaran dan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kalau dapat bantuan-bantuan begitu, pihak penerima biasanya ada dampaknya. Maka dari itu kami akan tetap mendampingi prosesnya sehingga tujuan yang ingin dicapai benar-benar terlaksana,” ucapnya.

Terkait kemungkinan adanya bantuan pembangunan pasca kejadian, Imam memastikan pihaknya akan terus memantau situasi.

“Kalaupun membutuhkan bantuan, itu memang tugas pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama untuk melakukan rehabilitasi. Karena kejadian ini termasuk luar biasa, Insyaallah kami akan memberikan perhatian yang lebih kepada Pesantren Al-Khoziny, juga kepada pesantren-pesantren lain agar pembangunan ke depan sesuai dengan ketentuan,” ujarnya.

Imam juga menegaskan bahwa musibah ini menjadi pelajaran penting agar ke depan pengawasan terhadap pembangunan sarana pendidikan keagamaan, khususnya pondok pesantren, bisa lebih ketat dan sesuai standar.

Sebelumnya, Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, KH Abdus Salam Mujib menyebut, penyebab ambruknya bangunan tersebut diduga penopang pengecoran tidak kuat menahan beban.

“Sepertinya penopang cor itu tidak pas, sehingga ambruk ke bawah,” ujarnya saat konferensi pers bersama sejumlah jurnalis di Sidoarjo, Senin (29/9).

Dia mengatakan bahwa ambruknya bangunan terjadi ketika proses pengecoran lantai tiga baru saja selesai.

“Pengecoran itu dimulai sejak pagi dan selesai sekitar pukul 12 siang. Jadi ini pengecoran yang terakhir saja,” ucapnya.

Di memastikan bangunan tersebut belum ditempati santri lantaran masih tahap pembangunan.

“Bangunan baru tiga lantai, rencana nanti sampai empat lantai dengan atap dak. Lantai bawah memang sudah dipakai untuk sholat, tapi lantai atas masih kosong,” ujarnya.

Meski begitu, saat insiden terjadi disebutkan ada jamaah sholat Asar di lantai dasar bangunan tersebut. Namun KH Abdus Salam mengaku tidak mengetahui jumlah pastinya.

“Saya tidak tahu persis, mungkin ratusan. Waktu itu saya juga tidak sedang di lokasi,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, pembangunan gedung dikerjakan secara bertahap. “Bagian atas bangunan rencananya akan digunakan untuk ruang kelas dan kegiatan santri, sementara lantai bawah sudah difungsikan sebagai musala,” ujarnya.

Dia juga menekankan musibah ini harus diterima dengan penuh kesabaran. “Saya kira memang ini takdir dari Allah. Jadi semuanya harus bisa bersabar dan mudah-mudahan diberi ganti oleh Allah yang lebih baik, serta dibalas dengan pahala,” ucapnya. (DK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini