Lsatu.net, Surabaya – School Principal, Sampoerna Academy Grand Pakuwon Surabaya, Mary Jane Daggao Luyon Fajardo mengungkapkan, pihaknya sejumlah strategi untuk menyelaraskan cita-cita siswa dan harapan orang tua.
“Dalam upaya membantu siswa menentukan arah pendidikan lanjutan sesuai minat dan kemampuannya, kami menekankan pentingnya peran layanan konseling,” ujarnya pada acara bertema Raising Future Leaders: Strengthening Parent-School Partnership to Foster Academic Excellence di Surabaya, Kamis (13/11/2025).
Tidak hanya bagi siswa, lanjut Mary, pendampingan ini juga diberikan kepada orang tua agar proses pengambilan keputusan terkait masa depan anak dapat berjalan secara selaras.
“Dalam proses konseling, siswa terlebih dahulu mengikuti serangkaian tes yang bertujuan untuk mengetahui bakat, minat, serta kemampuan akademik mereka,” ucapnya.
Mary mengatakan, hasil dari tes tersebut kemudian dipresentasikan kepada orang tua sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan jenjang pendidikan berikutnya.
“Keputusan akhir tetap berada di tangan keluarga. Namun, dari pihak sekolah kami memberikan data dan bukti bahwa anak ini unggul di bidang tertentu serta memiliki minat di bidang tersebut,” ujarnya.
“Hasil tes ini diharapkan dapat membantu orang tua lebih legowo menerima potensi dan pilihan anaknya,” imbuh Mary.
Psikolog, Cynthia Vivian Purwanto menambahkan, perbedaan pandangan antara anak dan orang tua kerap terjadi, terutama di keluarga yang memiliki kecenderungan dominan dalam menentukan masa depan anak.
“Biasanya, orang tua yang belum sempat meraih cita-citanya berharap anaknya bisa melanjutkan. Misalnya dulu ingin jadi dokter, anaknya pun diarahkan ke situ,” ucapnya.
Untuk itu, kata Cynthia, sekolah berperan sebagai mediator antara anak dan orang tua. Melalui hasil asesmen psikologis yang meliputi potensi intelektual, minat, kepribadian, serta nilai-nilai yang dianut, pihak sekolah dapat memberikan pandangan objektif.
“Adanya pihak ketiga, seperti psikolog atau konselor, membuat orang tua lebih mudah menerima masukan karena ada sudut pandang dari seorang ahli,” ujarnya.
Salah satu orang tua siswa turut membagikan pengalamannya. Ia mengakui bahwa meski pada awalnya berharap anaknya melanjutkan usaha keluarga, namun ia memilih untuk mendukung minat anak yang menonjol di bidang musik.
“Saya dulu berpikir anak saya akan melanjutkan bisnis keluarga, tapi ternyata passion-nya di musik. Dari kecil dia sudah sering ikut lomba dan tampil di berbagai tempat,” ucapnya.
“Saya memilih untuk mendukungnya, apalagi sekolah juga sangat mendukung dengan memberi izin dan dukungan saat anak saya harus tampil di luar sekolah,” pungkasnya.
Dari pengalaman tersebut, baik pihak sekolah maupun orang tua sepakat bahwa pendampingan konseling menjadi jembatan penting antara cita-cita anak dan harapan keluarga.
Dengan komunikasi terbuka dan data yang akurat, proses pengambilan keputusan terkait masa depan siswa dapat berlangsung lebih sehat dan saling menghargai. (AN)



