Lsatu.net, Banyuwangi – Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengungkapkan, update hasil operasi SAR sementara yang telah dilakukan tim SAR gabungan.
“Telah ditemukan 35 orang penumpang, 31 orang dalam kondisi selamat dan empat orang meninggal dunia, sedangkan 30 orang lainnya masih dalam pencarian,” ujarnya, Kamis (3/7/2025).
Syafii mengatakan, pihaknya juga mengerahkan sejumlah pesawat helikopter untuk melakukan pencarian kapal KMP Tunu Pratama Jaya rute Ketapang Banyuwangi menuju Gilimanuk yang mengalami kecelakaan pada hari Rabu, 2 Juli 2025 sekitar pukul 23.35 WIB di Selat Bali.
“Saya sampaikan saat ini Basarnas sedang menggerakkan pesawat helikopter Dauphin AS365 HR-3606 menuju Banyuwangi, untuk observasi udara, pencarian visual, evakuasi, serta koordinasi taktis dari udara,” ucapnya.
Helikopter beregistrasi HR-3606 bertugas sebagai Standby Actual SAR. Helikopter ini beberapa kali sempat bertugas diantaranya pengecekan rute Flypast Nusantara Flight pada Upacara Peringatan ke-77 Kemerdekaan RI.
“Basarnas juga memberangkatkan 13 personel Basarnas Special Group (BSG) dengan kualifikasi khusus under water rescue,” ujar Syafii.
Alut (alat utama) yang terlibat dalam operasi saat ini yakni RIB 03 dan RBB Banyuwangi, RIB 01 Jembrana, KN SAR Permadi dari Kansar Surabaya, KN SAR Arjuna dari Kansar Denpasar, KN 5200 dan KN 5209 dari KSOP Tanjungwangi, Kapal AL Sembulungqn dan Patkamla Payaman, TN Joyoboyo dari Pelindo dan KMP Tunu Pratama Jaya 5999 dan 3888.
“Untuk kondisi di lapangan saat ini, informasi dari BMKG dan hasil pengamatan visual: gelombang laut mencapai 2 sampai 2,5 meter, angin kencang dan arus laut kuat,” ucap Syafii.
Sementara itu, salah satu keluarga korban laka laut KMP Tunu Pratama Jaya, Mila mengaku bersyukur karena kerabatnya yang bernama Riko, yang berprofesi sebagai crew kapal ditemukan dalam kondisi selamat dalam insiden tersebut.
“Alhamdulillah, tadi ditemukan oleh nelayan, sekarang kondisinya sudah sehat dan tadi juga sudah sempat video call,” ujar Mila, Kamis (3/7/2025).
Perasaan yang berbeda diungkap oleh Ni Komang Wiardani. Dia mengaku saat ini masih menanti kepastian karena anggota keluarganya masuk dalam manifes kapal tersebut.
“Pada saat kejadian sempat menelepon mengabarkan bahwa kapalnya mau tenggelam. Selanjutnya handphonenya sudah tidak aktif, tidak bisa di telepon,” ucapnya.
Salah satu korban selamat laka laut KMP Tunu Pratama Jaya, Saipul menceritakan bahwa kapal kondisinya semakin miring hingga kemudian tenggelam.
“Kapal miring, kemudian saya berenang dan menemukan pelampung. Kemudian saya merangkul pelampung tersebut, dan terus berenang hingga sampai ke tepi pantai,” ujarnya.



