Stok BBM Saat Lebaran Aman, Peneliti ITS: Pemerintah Punya Jam Terbang Jaga Pasokan Energi

0
6
Foto: (istimewa)

Lsatu.net, Surabaya – Kekhawatiran publik soal ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di tengah tensi geopolitik global yang memanas akhirnya mulai mereda. Pemerintah dinilai berhasil menjaga pasokan energi tetap aman selama momentum Lebaran 2026, meski sebelumnya sempat muncul kekhawatiran cadangan BBM nasional hanya cukup untuk sekitar 20 hari.

Peneliti dari Lab Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar Krishna Putra, menilai stabilnya pasokan BBM selama periode mudik dan arus balik tidak terlepas dari pengalaman pemerintah dalam mengelola kebutuhan energi pada momen tahunan tersebut.

Menurut Ary, pemerintah sudah memiliki pola dan pengalaman yang cukup matang dalam mengantisipasi lonjakan konsumsi BBM saat lebaran.

“Ya memang karena sudah event tahunan. Artinya secara pasokan mungkin pemerintah sudah punya jam terbang untuk menjamin keterisian dan harga dari BBM,” ujar Ary, Jumat (27/3/2026).

Ia menjelaskan, lonjakan konsumsi BBM saat lebaran cenderung lebih mudah dipetakan karena berlangsung dalam rentang waktu yang relatif singkat, yakni selama arus mudik hingga arus balik.

“Kalau lebaran kan memang penambahan karena mudik, itu juga dalam kategori mungkin semingguan, artinya dari berangkat sampai pulang,” katanya.

Selain faktor pengalaman pemerintah, Ary juga menilai perilaku masyarakat yang lebih bijak dalam menggunakan BBM ikut membantu menjaga stabilitas pasokan. Kekhawatiran akan potensi kelangkaan, menurut dia, justru mendorong masyarakat untuk lebih hemat dalam konsumsi energi.

“Kalau masyarakat sudah mulai mengendalikan diri untuk tidak terlalu menghambur-hamburkan, manfaatnya terasa. Saya lihat di beberapa daerah, kondisi sudah tidak terlalu antre BBM,” ujarnya.

Meski demikian, Ary mengingatkan bahwa secara fundamental ketahanan energi Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Salah satunya adalah kapasitas cadangan BBM nasional yang dinilai masih terbatas jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan.

Ia menyebut, cadangan energi Indonesia saat ini diperkirakan hanya berada di kisaran 20 hingga 28 hari, masih jauh di bawah negara seperti Jepang dan Singapura yang mampu menjaga cadangan energi hingga berbulan-bulan.

Karena itu, Ary mendukung rencana pemerintah untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan BBM hingga 90 hari. Menurut dia, langkah tersebut merupakan kebijakan strategis yang penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional, terutama saat terjadi gejolak harga maupun gangguan pasokan global.

“Kalau bisa 90 hari sudah luar biasa. Artinya kalau harga pasar naik turun, kita masih punya waktu dan cadangan dari pengadaan sebelumnya,” ucapnya.

Di sisi lain, Ary juga menyoroti kontribusi program biodiesel seperti B50 yang dinilai membantu menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor solar. Namun, untuk kebutuhan bensin, Indonesia masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Dengan kombinasi pengalaman pemerintah, pola konsumsi masyarakat yang lebih terukur, serta dukungan kebijakan energi yang terus diperkuat, Ary menilai keberhasilan menjaga pasokan BBM selama Lebaran 2026 menjadi sinyal positif bagi pengelolaan energi nasional di tengah tekanan geopolitik global. (DK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini