Lsatu.net, Surabaya – Di ruang-ruang praktik yang dipenuhi deretan komputer, layar monitor, dan coretan konsep karakter digital, masa depan perlahan sedang dibentuk. Bukan lagi sekadar melalui buku pelajaran atau teori di ruang kelas, melainkan lewat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kini mulai menjadi bagian dari proses belajar para siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jawa Timur.
Langkah besar itu kian nyata ketika Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur menerima kunjungan BOKE Technology dari Shanghai, China, ke tiga sekolah unggulan bidang animasi, yakni SMKN 4 Malang, SMKN 2 Singosari, dan SMKN 12 Surabaya pada 22–23 Juli 2026.
Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan penanda bahwa karya anak-anak SMK Jawa Timur mulai menarik perhatian dunia.
Beberapa waktu sebelumnya, jajaran Dindik Jatim lebih dahulu mendatangi pusat industri BOKE Technology di Shanghai. Kini, giliran perusahaan teknologi itu datang langsung untuk melihat bagaimana kreativitas tumbuh di ruang-ruang belajar sekolah vokasi Indonesia.
Di balik setiap karya animasi yang dipamerkan siswa, tersimpan ribuan jam latihan, percobaan yang berulang, hingga semangat yang tak pernah surut untuk terus belajar. Karakter digital yang mereka ciptakan, dunia virtual yang mereka bangun, hingga cerita-cerita visual yang mereka rangkai menjadi bahasa universal yang mampu menembus batas negara.
Kepala Dindik Jawa Timur, Aries Agung Paewai, memandang perkembangan AI sebagai sebuah gelombang besar yang tidak mungkin dihindari. Pilihannya hanya dua: menjadi penonton atau menjadi bagian dari perubahan itu.
“Perkembangan teknologi, khususnya AI, berlangsung sangat cepat. Karena itu peningkatan kompetensi guru dan siswa menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Kami ingin memastikan pembelajaran di SMK selalu mengikuti perkembangan industri sehingga lulusan Jawa Timur memiliki daya saing tinggi dan siap menghadapi tantangan dunia kerja global,” ujarnya.
Bagi Aries, transformasi pendidikan bukan hanya soal menghadirkan perangkat teknologi baru di sekolah. Yang jauh lebih penting adalah mempersiapkan manusia yang mampu menguasainya. Sebab secanggih apa pun teknologi, masa depan tetap ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya.
Karena itulah, kerja sama dengan BOKE Technology tak berhenti pada penandatanganan kemitraan. Sebanyak 5.000 guru produktif, khususnya pada kompetensi animasi, akan mendapatkan pelatihan berbasis AI mulai Agustus 2026.
Pelatihan dilakukan secara daring agar para guru lebih dahulu memahami teknologi tersebut sebelum kemudian mentransformasikannya kepada para siswa.
Di mata Aries, investasi terbesar bukanlah membeli perangkat keras, melainkan membangun kapasitas para pendidik. Dari tangan guru-guru itulah akan lahir generasi baru yang mampu menjadikan AI sebagai alat berkarya, bukan sekadar teknologi yang dikonsumsi.
Yang menarik, kunjungan tim BOKE Technology justru menghadirkan kejutan tersendiri. Mereka datang dengan rasa penasaran, namun pulang dengan kekaguman.
Satu demi satu karya animasi siswa dipresentasikan. Ada desain karakter, visual gim, ilustrasi digital, hingga berbagai proyek kreatif lain yang memperlihatkan kematangan teknik sekaligus keberanian berimajinasi. Bagi tamu dari Shanghai, hasil karya tersebut melampaui ekspektasi.
Aries pun tak menyembunyikan rasa bangganya. “Mereka datang untuk membuktikan sendiri kualitas anak-anak SMK kita. Faktanya, karya yang dihasilkan luar biasa. Bahkan sebagian produk yang dibuat siswa sudah setara dengan karya di tingkat perguruan tinggi. Ini menjadi bukti bahwa lulusan SMK Jawa Timur memiliki kemampuan yang sangat kompetitif, khususnya di bidang animasi,” katanya.
Apresiasi serupa disampaikan Vice President of Public Affairs BOKE Technology, Wang Chen. Menurutnya, kualitas karya para siswa menjadi alasan kuat mengapa Jawa Timur dipilih sebagai provinsi pertama di Indonesia untuk menjalin kolaborasi strategis.
Melalui program Game+ Education, BOKE memperkenalkan pemanfaatan AI dalam pengembangan gim, webtoon, novel digital, hingga produksi short drama.
Bahkan peserta yang belum memiliki pengalaman dalam pengembangan gim diharapkan mampu menghasilkan karya digital hanya dalam waktu pelatihan yang relatif singkat. Namun, kesempatan yang ditawarkan tidak berhenti di ruang kelas.
Setelah menyelesaikan pelatihan, para peserta berpeluang mengikuti kompetisi desain AI di China. Dari sana, talenta-talenta terbaik akan diseleksi untuk membuka jalan menuju industri kreatif internasional.
Karya-karya siswa juga direncanakan dipublikasikan melalui platform digital global sehingga dapat dikenal oleh komunitas kreatif dunia.
Bagi banyak siswa SMK, peluang tersebut mungkin menjadi mimpi yang selama ini hanya terlihat di layar komputer. Kini, mimpi itu perlahan menemukan jalannya.
Wang Chen menilai komitmen Dindik Jawa Timur dalam membangun pendidikan vokasi berbasis teknologi menjadi alasan utama dipilihnya provinsi ini sebagai mitra pertama di Indonesia.
Harapannya sederhana, tetapi bermakna besar: materi pembelajaran AI di sekolah terus diperbarui mengikuti standar industri internasional, sementara para siswa memperoleh kesempatan lebih luas untuk berkolaborasi, berkompetisi, sekaligus menunjukkan kemampuan mereka di panggung dunia.
Di tengah derasnya arus revolusi digital, kerja sama ini menjadi pengingat bahwa masa depan tidak selalu dimulai dari gedung-gedung pencakar langit atau laboratorium raksasa.
Terkadang, ia lahir dari ruang praktik sederhana di sebuah SMK, ketika seorang guru mengajarkan teknologi baru, dan seorang siswa berani bermimpi lebih jauh daripada batas yang pernah ia bayangkan. Dan dari Jawa Timur, mimpi-mimpi itu kini mulai menemukan panggungnya. (DK)



