Saat Kemarau Mengeringkan Jawa Timur, Polisi Bersiap Menjinakkan Api Karhutla

0
6
Foto: (istimewa)

Lsatu.net, Surabaya – Musim kemarau datang dengan wajah yang berbeda. Rumput-rumput menguning, dedaunan mengering, tanah kehilangan kelembapannya. Di sejumlah kawasan hutan Jawa Timur, alam perlahan berubah menjadi hamparan bahan bakar yang menunggu percikan api.

Di tengah kondisi itu, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengintai. Hutan jati dan pinus yang membentang di berbagai wilayah Jawa Timur menyimpan kerawanan tersendiri. Ketika udara semakin kering dan angin bertiup, api kecil yang semula dianggap sepele dapat berubah menjadi kobaran yang sulit dikendalikan.

Kekhawatiran itulah yang mendorong Polda Jawa Timur memperkuat kesiapsiagaan menghadapi karhutla. Selasa (11/8/2026), lapangan apel Polda Jatim menjadi tempat digelarnya apel pasukan dan peralatan penanganan karhutla 2026. Personel dan berbagai perlengkapan disiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk di tengah musim kemarau.

Direktur Samapta Polda Jatim Kombes Pol Noerwiyanto mengatakan Jawa Timur memiliki tingkat kerawanan karhutla yang cukup tinggi. Kondisi geografis menjadi salah satu tantangan karena wilayah ini memiliki kawasan hutan, pegunungan, perkebunan hingga permukiman dengan kepadatan penduduk yang berbeda-beda.

“Jawa Timur merupakan wilayah yang mempunyai potensi kerawanan kebakaran hutan dan lahan yang tinggi. Kawasan hutan jati dan hutan pinus yang tersebar di berbagai wilayah berpotensi terjadi kebakaran, terutama saat musim kemarau,” ujar Noerwiyanto.

Ketika Hutan Mulai Kehilangan Air

Musim kemarau bukan sekadar tentang panas yang menyengat. Bagi kawasan hutan, kemarau berarti berkurangnya kelembapan yang selama ini membantu menahan laju api.

Ancaman itu semakin terasa ketika sejumlah wilayah Jawa Timur mulai menghadapi kondisi kering. Salah satu perhatian berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), yang saat ini masih dalam penanganan akibat kebakaran.

Api di kawasan hutan bukan persoalan sederhana. Sekali menjalar, kobaran dapat bergerak mengikuti kondisi vegetasi dan angin, menembus medan yang sulit dijangkau kendaraan, sekaligus mengancam ekosistem yang membutuhkan waktu panjang untuk pulih.Namun, karhutla tidak selalu lahir dari alam.Ada kalanya api bermula dari tangan manusia.

Noerwiyanto mengatakan aktivitas manusia menjadi salah satu faktor yang dapat memicu kebakaran. Pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar menjadi salah satu kebiasaan yang harus dihentikan.

“Terjadinya karhutla selain faktor alam atau cuaca pada musim kering yang ekstrem, juga dapat disebabkan faktor manusia. Misalnya membakar lahan untuk membersihkan daun-daun kering yang ada di lahan yang akan dijadikan perkebunan,” katanya.

Api yang dinyalakan untuk membersihkan lahan mungkin hanya terlihat kecil. Tetapi ketika bertemu rerumputan kering, daun yang menumpuk dan tiupan angin, api dapat menemukan jalannya sendiri. Ia tak lagi mengenal batas lahan.

Membaca Api Sebelum Menjadi Bencana

Ancaman karhutla tahun ini semakin mendapat perhatian seiring prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau lebih kering dari kondisi normal. Sebagian wilayah bahkan diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang.

Bagi aparat dan pemangku kepentingan di daerah, prediksi tersebut menjadi alarm untuk memperkuat deteksi dini.Sejumlah wilayah di Jawa Timur masuk dalam daftar yang perlu mendapat perhatian, di antaranya Probolinggo, Situbondo, Lumajang, Malang, Trenggalek, Ponorogo, Kediri, Bojonegoro dan Gresik. “Potensi munculnya titik panas atau hotspot perlu diantisipasi di sejumlah wilayah,” tutur Noerwiyanto.

Dalam situasi seperti itu, keterlambatan beberapa menit bisa berarti kobaran api yang semakin luas. Karena itu, deteksi dini menjadi bagian penting dari strategi pencegahan.

Patroli di kawasan rawan ditingkatkan. Teknologi dimanfaatkan untuk memantau titik panas. Edukasi kepada masyarakat juga terus didorong agar praktik membuka lahan dengan cara membakar tidak lagi dilakukan.

Sebab, mencegah api sebelum membesar selalu lebih mudah dibandingkan memadamkannya ketika sudah menjalar ke dalam hutan.

Api Tak Bisa Dilawan Sendirian

Polda Jatim memastikan kesiapan personel, peralatan, sarana dan prasarana pendukung. Namun, Noerwiyanto menyadari bahwa karhutla bukan musuh yang dapat ditaklukkan satu institusi.Api tidak mengenal batas kewenangan.

Karena itu, penanganannya membutuhkan kerja bersama antara Polri, BPBD, Basarnas, pemadam kebakaran, relawan, dinas terkait hingga masyarakat.

“Apel gelar pasukan dan peralatan ini merupakan langkah dan bukti nyata bahwa baik aspek personel, peralatan maupun sarana prasarana pendukung siap melaksanakan tugas penanganan karhutla,” tegasnya.

Di lapangan, koordinasi menjadi kunci. Setiap unsur harus mengetahui perannya. Ketika satu titik api muncul, informasi harus bergerak cepat dan pasukan harus dapat segera digerakkan.

“Keberhasilan penanganan karhutla sangat bergantung pada sinergitas dan kolaborasi lintas sektoral. Karena itu, kita harus menghilangkan ego sektoral agar penanganan di lapangan bisa berjalan dengan baik,” kata Noerwiyanto.

Di Balik Kobaran, Ada Nyawa yang Harus Dijaga

Namun, di balik setiap operasi pemadaman, ada satu hal yang tak boleh dilupakan: keselamatan petugas.Hutan bukan medan yang mudah. Kontur tanah yang terjal, asap pekat, jarak pandang terbatas, perubahan arah angin hingga kemungkinan munculnya api secara tiba-tiba membuat tugas pemadaman memiliki risiko tinggi.

Karena itu, Noerwiyanto mengingatkan seluruh personel untuk tidak mengabaikan prosedur keselamatan. “Utamakan keselamatan personel. Patuhi standar operasional prosedur keselamatan kerja atau safety first saat melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di medan yang sulit. Ingat, jiwa personel sangat berharga,” pungkasnya.

Musim kemarau mungkin tak bisa dihentikan. Panas matahari tak dapat diminta untuk mereda. Angin pun tak selalu bisa ditebak arahnya.Tetapi api masih bisa dicegah.

Di antara daun-daun yang mengering dan tanah yang kehilangan air, kesiapsiagaan menjadi harapan terakhir agar bara kecil tak berubah menjadi bencana besar.

Sebab ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Ada ekosistem, udara, sumber kehidupan, dan masa depan yang ikut dipertaruhkan. (BA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini