Lsatu.net, Surabaya – Sebuah buku terkadang lahir dari hal yang sederhana: rasa ingin tahu seorang anak, imajinasi yang tak pernah habis, atau pengalaman kecil yang diam-diam membekas dalam ingatan.
Dari ruang kelas, ide-ide itu kemudian tumbuh. Ada yang bermula dari kebiasaan membaca, percakapan dengan guru, pengalaman sehari-hari, hingga keberanian untuk menuangkan sesuatu yang selama ini hanya tersimpan di kepala.
Di Sampoerna Academy Grand Pakuwon Surabaya, proses itu menemukan bentuknya. Bukan sekadar menjadi tugas sekolah, tetapi menjelma menjadi karya yang bisa dibaca, dibagikan, dan menginspirasi orang lain.
Momentum tersebut hadir dalam Literacy Day 2026, yang digelar untuk memperingati Hari Literasi Internasional ke-60 dengan mengusung tema “Literacy for People, the Planet, and Prosperity.”
Tiga buku karya siswa diluncurkan dalam kegiatan tersebut. Karya-karya itu terinspirasi dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, sekaligus menjadi gambaran bagaimana literasi dapat tumbuh dari proses belajar yang dekat dengan kehidupan anak.
Bagi para siswa, menulis buku bukan sekadar perkara merangkai kata. Ada proses panjang di balik mencari gagasan, membaca, berdiskusi, menerima masukan, melakukan revisi, lalu kembali menyempurnakan tulisan. Di sanalah literasi menemukan maknanya yang lebih luas.
Sebab literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca sebuah kalimat, tetapi juga tentang bagaimana seorang anak memahami apa yang dibacanya, mempertanyakan informasi, melihat persoalan dari sudut pandang berbeda, kemudian mengubah pemahamannya menjadi sesuatu yang bermakna.
Ketika Membaca Menjadi Jalan untuk Memahami Dunia
Di tengah derasnya arus informasi, anak-anak kini tumbuh di dunia yang jauh berbeda. Buku bukan lagi satu-satunya jendela untuk memperoleh pengetahuan.
Internet, media sosial, video, hingga berbagai platform digital setiap hari menghadirkan begitu banyak informasi.
Namun, banyaknya informasi tidak selalu berarti meningkatnya kemampuan memahami informasi.
Anak-anak tetap membutuhkan kemampuan untuk membaca konteks, memilah informasi, memahami perbedaan perspektif, serta menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.
Tantangan itu tergambar dalam Asesmen Nasional 2025. Proporsi siswa SD/MI yang mencapai kompetensi minimum literasi membaca tercatat 55,7 persen.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa membangun budaya literasi merupakan perjalanan panjang yang perlu dimulai sejak dini.
Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan anak untuk membaca. Lebih jauh, anak perlu diberi ruang untuk bertanya, berdiskusi, berefleksi, berimajinasi, dan menghasilkan karya.
National Principal Sampoerna Academy Grand Pakuwon Surabaya, Maharsi Palupining Rini, mengatakan literasi seharusnya menjadi bagian dari proses belajar yang dekat dengan kehidupan siswa.
“Kami ingin mengajak siswa melihat literasi bukan hanya tentang seberapa banyak anak membaca, tetapi juga tentang seberapa baik mereka memahami, menginterpretasikan, dan memaknai apa yang dibaca. Dari situ, siswa dapat memperluas wawasan, melihat perspektif baru, dan menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan di sekitarnya,” ujar Palupi, Jumat (11/9/2026).
Semangat itulah yang coba dihidupkan melalui Literacy Day 2026. Tema “Literacy for People, the Planet, and Prosperity” tidak berhenti sebagai slogan. Literasi ditempatkan sebagai pintu untuk memahami manusia, lingkungan, sekaligus masa depan.
Di Sampoerna Academy, proses tersebut antara lain diterapkan melalui kebiasaan “Gemar Belajar”, salah satu bagian dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Siswa tidak hanya diminta membaca. Mereka diajak mencari tahu, berdiskusi, mengembangkan gagasan, melihat persoalan dari berbagai sudut, kemudian menuangkannya dalam tulisan maupun karya kreatif.
Pembelajaran trilingual, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Mandarin, juga memberi kesempatan bagi siswa untuk bersentuhan dengan sumber pengetahuan dan perspektif yang lebih beragam.
Proses belajar itu diperkuat melalui pendekatan STEAM dan 5C, yakni Creativity, Critical Thinking, Communication, Collaboration, dan Character. Dari sana, sebuah gagasan kecil dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.
Dari Gagasan Kecil Menjadi Sebuah Buku
Tiga buku yang diluncurkan menjadi bukti dari proses tersebut. Karya pertama dari jenjang Primary berjudul Minggu yang Menyenangkan, karya Alicia Georgia Marcia Oscar, dengan ilustrasi oleh Gwyneth Allison Supiyan dan Frances Eunice B.B.
Sementara dari jenjang Secondary, hadir Panen Kekuatan Rahasia karya Aireen Angelie Effendy, dengan ilustrasi oleh Cherish Annabelle Utomo dan Sumiko Nicoline Pricendra.
Karya lainnya adalah Di antara Ombak & Bisikan karya Annabel Gladys Tjipto, dengan ilustrasi oleh Eugene Poh, Miranda, dan Jennifer.
Ketiganya lahir dari Writing Competition yang diselenggarakan melalui pembelajaran Bahasa Indonesia dan Projek Co-Curricular.
Namun, perjalanan karya tersebut tidak berhenti setelah tulisan selesai dibuat. Bersama guru, para siswa melewati proses pengembangan ide, penulisan, hingga revisi. Mereka belajar bahwa sebuah karya yang baik tidak selalu lahir dalam sekali duduk.
Ada kalanya sebuah paragraf harus diperbaiki. Sebuah gagasan perlu diperdalam. Sebuah cerita harus dilihat kembali dari perspektif pembaca.
Dalam proses itulah anak-anak belajar menerima masukan tanpa kehilangan suara mereka sendiri. Lebih dari sekadar menghasilkan buku, pengalaman tersebut menumbuhkan keberanian. Keberanian untuk menulis. Keberanian untuk menerima kritik.
Dan yang tidak kalah penting, keberanian untuk percaya bahwa gagasan seorang anak pun layak didengar.
Literasi akhirnya tidak lagi menjadi kegiatan yang berhenti ketika halaman terakhir sebuah buku ditutup. Ia berlanjut menjadi proses berpikir, berbicara, mencipta, dan memahami dunia.
Ketika Karya Anak Kembali kepada Masyarakat
Ada satu langkah lain yang membuat perjalanan tiga buku tersebut menjadi lebih berarti. Sampoerna Academy Grand Pakuwon Surabaya berkolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya melalui penyerahan buku karya siswa kepada Perpustakaan Umum Surabaya dan Taman Baca Masyarakat (TBM) Surabaya.
Dengan demikian, buku-buku yang lahir dari ruang kelas itu tidak hanya berhenti menjadi koleksi sekolah. Ia bergerak keluar. Menemui pembaca lain.
Mungkin suatu hari akan dibaca seorang anak yang duduk di sudut perpustakaan. Mungkin menjadi pemantik bagi anak lain untuk berani menulis. Atau mungkin sekadar membuat seorang pembaca kecil tersenyum dan berpikir bahwa ia pun bisa menghasilkan sesuatu.
Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya, Dra. Novelija, S.H., mengatakan sekolah dan perpustakaan memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun ekosistem literasi.
“Budaya literasi membutuhkan ekosistem, di mana sekolah dan perpustakaan memiliki peran yang saling melengkapi. Sekolah membangun proses belajar yang terstruktur, sementara perpustakaan menyediakan akses terhadap sumber belajar sekaligus ruang bagi anak untuk bereksplorasi,” ujarnya.
Menurut Novelija, buku karya siswa yang diserahkan tersebut bukan sekadar tambahan koleksi.
Lebih dari itu, karya tersebut dapat menjadi bagian dari ruang belajar yang memungkinkan anak-anak lain membaca, menemukan inspirasi, dan kemudian mencoba menghasilkan karya mereka sendiri.
Harapan itulah yang membuat sebuah buku anak menjadi lebih dari sekadar benda yang tersusun dari kertas dan tinta.
Ia menjadi jembatan. Dari satu anak kepada anak lainnya. Dari satu gagasan kepada gagasan berikutnya. Dan dari sebuah ruang kelas menuju ruang publik.
Menanam Kebiasaan, Memanen Keberanian
Pada akhirnya, literasi bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling banyak membaca buku. Literasi adalah perjalanan untuk membuat anak semakin mengenal dunia, sekaligus mengenal dirinya sendiri.
Melalui buku, seorang anak belajar bahwa dunia memiliki banyak cerita. Melalui diskusi, ia mengetahui bahwa satu persoalan bisa dilihat dari berbagai sisi. Melalui menulis, ia belajar bahwa pikirannya memiliki nilai. Dan melalui karya, ia menemukan bahwa apa yang dipelajarinya dapat memberikan sesuatu kepada orang lain.
Palupi mengatakan budaya belajar dan literasi tersebut diharapkan dapat menjadi bekal yang terus dibawa siswa dalam perjalanan mereka.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kami untuk menumbuhkan kebiasaan belajar yang dapat dibawa siswa dalam perjalanan mereka ke depan. Kami berharap literasi dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, kepercayaan diri, dan keberanian siswa untuk terus mengeksplorasi hal-hal baru, sehingga mereka tumbuh sebagai pembelajar yang aktif dan mampu menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk menciptakan sesuatu yang bermakna,” tuturnya.
Tiga buku yang lahir dari tangan anak-anak itu mungkin hanyalah permulaan. Tetapi dari sebuah permulaan kecil, bisa tumbuh sesuatu yang panjang. Sebab setiap budaya membaca selalu dimulai dari satu halaman.
Setiap keberanian menulis dimulai dari satu kalimat. Dan setiap karya besar, barangkali, pernah bermula dari seorang anak yang suatu hari berani berkata “Aku punya sebuah cerita”. (DK)



