Lsatu.net, Surabaya – Aroma bawang putih itu dulu hanya memenuhi dapur sebuah rumah di kawasan Raya Bukit Bali, Citraland, Surabaya. Di sanalah Nico Njoto Wijaya memulai semuanya bukan dengan rencana bisnis besar, bukan pula dengan modal investor melainkan dari kesenangan sederhana menaburkan garlic powder ke hampir setiap masakan yang ia buat.
Tahun 2019, ketika dunia belum bersiap menghadapi pandemi, Nico membuka toko kecil di Shopee. Ia menamainya Garlickys. Saat itu, ia belum membayangkan bahwa kecintaannya pada bumbu akan membawanya melintasi batas negara.
Awalnya, yang ia racik hanyalah garlic butter untuk konsumsi pribadi. Racikan itu kaya rempah, lebih berani dari kebanyakan produk serupa di pasaran. Teman-teman yang mencicipi mulai datang dengan permintaan yang sama.
“Awalnya cuma bikin untuk makan sendiri. Tapi teman-teman kalau mau harus datang ke rumah. Lama-lama mereka bilang, kenapa nggak dijual saja supaya bisa beli sendiri,” ujarnya di Surabaya, Senin (9/2/2026).
Saran itu terdengar sederhana. Namun, seperti banyak kisah usaha rumahan lainnya, langkah pertama tidak selalu mudah. Garlic butter yang ia pasarkan tak langsung disambut pasar. Penjualan berjalan pelan. Dalam sekali produksi, ia hanya mampu membuat 30 botol. Terasa kecil. Terasa ragu.
Ia lalu menoleh ke hal yang kerap dianggap sepele yaitu kemasan. Label yang awalnya polos tanpa identitas diperbaiki. Stiker ditempel rapi di tutup dan badan kemasan, lengkap dengan segel. Sentuhan visual itu mengubah cara orang memandang produknya. Perlahan, pesanan berdatangan.
Namun tantangan sesungguhnya justru tersembunyi dalam bahan baku. Nico dikenal menjaga soal kualitas. Parsley yang ia gunakan harus hijau segar, bukan kecokelatan atau layu seperti yang banyak dijumpai di pasaran.
Untuk mendapatkannya, ia harus berburu pemasok dan membeli dalam jumlah besar demi menjamin kontinuitas produksi.
Stok melimpah itu sempat menjadi persoalan baru. Rempah terlalu banyak untuk sekadar disimpan. Dari situlah lahir ide yang mengubah arah bisnisnya, mengemas dan menjual rempah-rempah premium secara terpisah.
Jika ia saja kesulitan menemukan parsley berkualitas, pikirnya, tentu banyak orang mengalami hal serupa.
Keputusan itu menjadi titik balik. Dari semula hanya menjual tiga varian garlic butter dan 17 jenis rempah, Garlickys berkembang pesat. Kini, ada 41 varian rempah, tiga varian garlic butter, dua varian bawang goreng, bawang merah dan bawang putih, serta enam produk baru yang tengah disiapkan.
Pasarnya pun meluas, melampaui bayangan awalnya yang hanya menyasar ibu rumah tangga. Ternyata, banyak pelanggan pria yang mengandalkan bumbunya untuk menu diet sederhana, telur rebus, sayur kukus, dada ayam panggang.
“Banyak bapak-bapak tanya, kalau makan rebus-rebus begini bumbunya apa supaya enak? Kami punya Cajun Seasoning, tinggal ditabur langsung bisa makan,” ucapnya.
Bisnis yang dirintis seorang diri itu kini tumbuh menjadi tim berisi sekitar 15 karyawan. Dalam operasional hariannya, Garlickys mencatat penjualan hingga tiga digit per hari. Pada momentum kampanye tanggal kembar seperti 12.12, angka itu bisa melonjak tiga hingga empat kali lipat.
Pertumbuhannya tak hanya terasa di dalam negeri. Melalui Program Ekspor Shopee, penjualan luar negeri Garlickys melonjak hingga 200 persen pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, bisnis ini mencatat pertumbuhan lebih dari 213 persen membawanya meraih penghargaan Shopee Super Awards 2025 dalam kategori Super Growing Export.
Produk-produk Garlickys kini menjangkau Hongkong, Malaysia, Singapura, hingga Swiss. Aroma bawang putih yang dulu hanya memenuhi dapur rumah di Citraland Surabaya, kini melintasi samudra.
Di tengah pandemi yang sempat melumpuhkan banyak usaha kecil, Garlickys justru menemukan jalannya. Nico tak sekadar menjual bumbu. Ia menawarkan kemudahan, konsistensi rasa, dan keyakinan bahwa kualitas tak boleh ditawar.
Di setiap botol kecil itu, ada cerita tentang keberanian memulai dari rumah, tentang ketekunan memperbaiki kemasan, tentang kegigihan mencari parsley paling hijau.
Dan mungkin, tentang satu keyakinan sederhana bahwa dari dapur kecil, mimpi besar bisa menguar pelan, harum, dan menjangkau dunia. (Dian Kurniawan)



