Finna Art of The Year 2025: Ketika Seni Menemukan Rumahnya di Surabaya

0
14
Foto: (istimewa)

Lsatu.net, Surabaya – Malam itu, Jumat (26/9/2025), Orasis Art Space di Surabaya berpendar hangat. Ruang putih yang biasanya sunyi mendadak ramai oleh langkah, bisikan, dan tatapan penuh harap. Ratusan pasang mata tertuju pada panggung, menanti detik pengumuman yang akan mengubah perjalanan beberapa seniman muda.

Ajang perdana FINNA Art of The Year 2025, yang digagas PT Sekar Laut Tbk (FINNA) bersama Orasis Art Space, akhirnya mencapai puncaknya. Bukan sekadar kompetisi, melainkan sebuah perayaan tentang karya, keberanian, dan mimpi para seniman yang datang dari pelosok negeri, membawa warna mereka masing-masing.

Sejak 9 Mei hingga 31 Juli 2025, ratusan karya masuk ke meja kurator. Dari kanvas yang penuh goresan rindu, hingga media baru yang berbisik tentang ingatan kolektif. Setelah seleksi panjang, terpilihlah 35 karya terbaik sebuah mozaik yang mencerminkan denyut seni muda Indonesia.

“FINNA ingin memberikan wadah bagi komunitas seni, khususnya di Jawa Timur. Perusahaan ini lahir dan tumbuh di sini, sehingga kami merasa perlu memberikan kontribusi kembali. Salah satunya melalui seni, yang jarang mendapat perhatian,” ujar Welliam Cung, General Manager PT Sekar Laut Tbk.

Baginya, seni bukan sekadar hiasan, melainkan jembatan antara perusahaan dengan masyarakat, antara generasi lama dengan semangat muda. Ia berharap, ajang ini bukan yang pertama sekaligus terakhir, melainkan awal dari ruang-ruang baru yang terus lahir.

“Harapannya, event ini bisa memicu munculnya lebih banyak wadah, sehingga seniman muda bisa berkembang tanpa harus keluar dari Jawa Timur. Surabaya dan Jawa Timur juga bisa menjadi pusat seni,” tambahnya.

Tak heran, kompetisi ini juga dirangkai dengan Campus Roadshow di lima kota besar, seakan menebar jala untuk menjaring talenta muda. Semuanya menuju satu momentum HUT ke-50 PT Sekar Laut Tbk pada Juli 2026.

Jejak Warna di Kanvas Anak Muda

Juri Art Prize, Bob Edrian, masih teringat jelas saat menatap tumpukan 357 karya yang masuk. Sebagian besar berupa lukisan, tetapi masing-masing punya nyawa berbeda.

“Kriteria utama penilaian adalah keterkaitan antara konsep dengan medium yang dipilih, serta bagaimana karya itu dipresentasikan di ruang pamer. Sensibilitas seniman dalam merancang tampilan karyanya menjadi poin penting,” jelasnya.

Ia menambahkan, di balik kompetisi ini tersimpan satu peran lain yang tak kalah penting ruang talent scouting. Banyak nama-nama muda muncul, bukan dari Jakarta atau Bali, melainkan dari Surabaya, Banyuwangi, hingga Pasuruan. “Kita melihat bakat besar dari daerah. Ini yang membuat pameran ini terasa segar,” ucap Bob.

Malam Itu, Nama-Nama Itu Dipanggil

Detik-detik pengumuman seakan menahan napas semua orang. Lalu satu per satu nama pemenang dipanggil, diiringi tepuk tangan yang riuh sekaligus syahdu.

Untuk Art Prize Competition, gelar Official Selection Winner jatuh pada Eme dengan karya seni lukisnya, sementara Honorary Mention Winner diberikan kepada Vionetta Wianta lewat karya media barunya, Almost a Memory.

Di kategori Design Competition, sorotan jatuh pada Bima Setyo Aji dari Banyuwangi yang merebut Gold Brush. Disusul Luthfiyyah Hafizhah dari Pasuruan dengan Silver Brush, dan Tyagita Putri Hapsari asal Jakarta dengan Bronze Brush. Sementara penghargaan Most Favourite menutup malam dengan senyum lega seorang pemenang yang tak kalah membanggakan.

Lebih dari Sekadar Lomba

Di ujung acara, ada rasa yang tertinggal. Bahwa ini bukan sekadar soal hadiah meski total Rp155 juta tentu menggiurkan melainkan tentang bagaimana seni diberi ruang untuk tumbuh. Tentang bagaimana nama-nama muda yang barangkali asing kemarin, kini mulai dikenal, didengar, dan dilihat.

Dewan juri yang terdiri dari Asmudjo Jono Irianto, Bob Edrian, Elizabeth Y. Yuliawati, hingga Muklay dan Bethania Brigitta seakan memberi legitimasi bahwa karya mereka layak.

Dan Surabaya, malam itu, terasa bukan hanya kota industri, melainkan kota yang membuka pelukannya untuk seni. (BA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini