Lima Tahun Mati Suri, DKS Perlu Perbaikan Paradigma

0
6
Foto: (istimewa)

Lsatu.net, Surabaya – Waktu seakan berjalan pelan bagi para pelaku seni di Kota Pahlawan. Lima tahun sudah, Dewan Kesenian Surabaya (DKS) seperti mati suri, kehilangan denyut yang dulu pernah menghidupkan geliat seni di kota ini. Namun, di tengah keheningan itu, masih ada harapan yang terjaga.

Syarif Waja Bae, seorang seniman Surabaya yang juga Fungsionaris Departemen Film Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), memandang situasi ini dengan cara berbeda. Baginya, seni tidak hanya sebatas panggung ekspresi. Lebih jauh, seni dapat menjadi bagian penting dalam denyut nadi perekonomian kota.

“Pola pikir seperti ini yang harus kita kembangkan. Jadi semangatnya adalah berjalan beriringan serta berperan aktif dalam menyumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah) dan perekonomian di Surabaya,” tutur pria yang pernah bergulat di panggung Teater Lingkar kampus Stikosa AWS ini, lirih namun penuh keyakinan, Selasa (16/9/2025).

Ia membayangkan DKS bukan sekadar wadah berkumpulnya para seniman, melainkan motor ide yang mampu mengilhami Pemerintah Kota Surabaya. Sebuah etalase Jawa Timur yang hidup, berwarna, dan terbuka. Tempat di mana denyut seni dan budaya berkelindan, memberi wajah Surabaya sebagai miniatur kebudayaan Jawa Timur.

“Kompleks Balai Pemuda itu punya lahan yang luas dan letaknya di jantung kota. Itu bisa kita manfaatkan untuk membina generasi muda, melahirkan bibit baru, bahkan menggelar pertunjukan seni kelas internasional. Dari situlah wisatawan datang, ekonomi pun bergerak,” lanjutnya, matanya berbinar seolah melihat panggung yang penuh penonton.

Bagi Syarif, seni adalah ruang perjumpaan: perjumpaan gagasan, perjumpaan generasi, perjumpaan manusia dengan rasa. Karena itu, ia mengajak seluruh seniman Surabaya untuk menghapus sekat ego, bahu membahu, dan bergandengan tangan.

“Akan lebih indah jika kita, para seniman, saling mendukung demi kemajuan seni dan budaya di Surabaya. Dengan begitu, kita juga memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya pelan, seperti doa yang mengalir.

Kini, di tengah kosongnya kepemimpinan DKS, Syarif menitipkan harapan. Harapan akan hadirnya sosok pemimpin yang mampu mengayomi, menyejukkan, sekaligus menyatukan.

“Sebagai manusia yang mengedepankan cipta, rasa, dan karsa, kita seharusnya bisa menciptakan iklim berkesenian dan berkebudayaan yang sejuk dan membangun,” pungkasnya, menutup obrolan sore dengan secercah asa. (BA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini