Kilau “Blora Mustika” yang Pudar: Kisah Tarso Bertahan di Gubuk Reyot

0
7
Foto: (istimewa)

Lsatu.net, Blora – “Blora Mustika.” Nama itu begitu indah di telinga, sebuah singkatan dari Makmur, Unggul, Sejahtera, Tertib, Indah, Kontinyu, dan Aman. Namun, jauh dari gemerlap jargon itu, di sudut sunyi Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon, hidup seorang lelaki yang justru menjadi potret buram dari kata “makmur” dan “sejahtera”.

Dialah Tarso. Usianya baru tiga puluh tahunan, namun guratan hidup membuat wajahnya tampak lebih tua dari angka itu. Ia tinggal sebatang kara di sebuah gubuk reyot berukuran tak lebih dari 2 x 3 meter. Atapnya bolong, dindingnya rapuh, dan tanah menjadi alas tidur setiap malam.

Di tempat itulah Tarso mencoba bertahan, dengan kesetiaan pada hidup yang sederhana, meski begitu getir.

Sendiri, Tanpa Identitas

Hari-hari Tarso diisi dengan mengais rongsokan. Dari situ ia mengumpulkan recehan demi sekadar bisa makan. Tidak ada keluarga yang menemani. Tidak ada jaminan yang melindungi. Bahkan selembar KTP pun ia tak punya, membuat pintu bantuan sosial tertutup rapat di hadapannya.

“Saya sudah satu tahun tinggal di sini. Belum pernah dapat bantuan,” ujarnya lirih saat ditemui, Selasa (16/9/2025). Senyumnya getir, namun matanya berusaha tetap teduh.

Ia bercerita, kepulangannya ke Blora terjadi setelah pernikahannya kandas di Nganjuk. Sejak itu, dunianya menyempit menjadi sekadar gubuk reyot dan jalanan berdebu tempat ia mencari rongsokan.

“Kulo nggak apa-apa. Yang penting rukun,” ucapnya pelan, seakan masih berusaha menemukan alasan untuk bersyukur.

Guncangan bagi Pemerintah Desa

Kondisi Tarso baru benar-benar tersibak ketika Forkopimcam Jepon dan perangkat desa datang menemuinya. Kepala Desa Tempellemahbang, Kasbi, tak bisa menutupi keterkejutannya.

“Kemarin saya ke sini, tapi beliaunya nggak ada, sedang kerja. Begitu saya tahu kondisinya begini, langsung saya komunikasi dengan perangkat. Kok bisa sampai ora ketok (tidak terlihat) dari dulu,” katanya, dengan nada penyesalan.

Kasbi berjanji akan membantu kebutuhan dasar Tarso, bahkan memperbaiki sepeda tuanya yang menjadi teman setia dalam mencari rongsokan.

Plt. Camat Jepon, Andi Nurrohman, juga menyampaikan keprihatinan yang sama.
“Pada prinsipnya kami prihatin. Tampak jelas rumah Tarso sangat tidak layak huni,” ujarnya.

Andi memastikan pemerintah akan segera mengurus identitas kependudukan Tarso agar ia bisa diusulkan menerima bantuan sosial maupun rumah layak huni.
“Siap nanti kita usulkan dan kawal bareng-bareng,” janjinya, menyalakan secercah harapan.

Ketika Tagline Kehilangan Makna

Tarso hanyalah satu wajah dari banyak cerita serupa yang mungkin tersembunyi di balik indahnya jargon “Blora Mustika”. Ironisnya, Desa Tempellemahbang sebenarnya dikelilingi potensi besar: kuliner, wisata, hingga pabrik yang berdiri di sekitarnya. Namun, potensi itu belum sepenuhnya menetes untuk menghapus kemiskinan yang nyata di depan mata.

Di gubuk kecil Tarso, kilau “Mustika” itu seakan memudar. Kata “sejahtera” terdengar seperti nyanyian yang jauh, tak pernah sampai ke telinganya. Kata “aman” seolah tak berarti bagi seorang warga yang bahkan tak memiliki identitas untuk diakui.

Kisah Tarso menjadi cermin yang menohok: bahwa pembangunan bukan sekadar deretan kata indah di baliho atau pidato, melainkan bagaimana memastikan tak ada satu pun warga yang tercecer, terpinggirkan, dan terlupakan.

Dan di tengah sunyi malam Desa Tempellemahbang, Tarso masih bertahan. Dengan sepeda tua, dengan senyum getir, dan dengan harapan kecil yang mungkin suatu hari benar-benar akan menemukan cahaya. (AN)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini