Lsatu.net, Surabaya – Ada seberkas haru yang membalut aula Basroni Rizal di Wisma SIER, Senin (30/6/2025). Di tengah hangatnya udara akhir Juni, puluhan pasang mata menyaksikan sebuah perjalanan panjang yang dituai dengan senyum puas. PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) tidak sekadar membukukan angka laba. Ia menorehkan kisah tentang semangat, perubahan, dan impian yang menyatu dalam satu tarikan napas digitalisasi.
Di balik angka Rp565,22 miliar yang terpampang dalam layar presentasi melambung 42,5 persen dari tahun sebelumnya tersimpan ribuan jam kerja, ketegangan dalam pengambilan keputusan, dan secercah harapan akan masa depan industri Indonesia yang lebih cemerlang.
Adalah Didik Prasetiyono, Direktur Utama PT SIER, yang membuka cerita itu dengan suara penuh syukur. “Alhamdulillah, ini bukan sekadar hasil bisnis. Ini adalah buah dari semangat kolektif seluruh insan SIER,” ujarnya, lirih namun mantap, seakan menyampaikan rasa terima kasih dari lubuk hati terdalam kepada seluruh tim yang telah berjalan bersamanya dalam medan yang tak selalu mudah.
Angka demi angka diuraikan. Pendapatan menembus Rp586 miliar, EBITDA menyentuh Rp638 miliar, dan total aset kini menjejak angka fantastis: Rp21,37 triliun. Namun lebih dari sekadar grafik yang naik, SIER sedang menceritakan sebuah metamorfosis. Sebuah perubahan yang berakar pada keberanian untuk menjawab tantangan zaman dengan inovasi dan kolaborasi.
SIER tidak lagi sekadar pengelola kawasan industri. Ia berubah menjadi ruh dari ekosistem industri cerdas. Dengan jaringan LoRaWAN dan Industrial Operation Hub (IOH) yang telah dioperasikan, SIER seperti tengah merajut masa depan dimana pabrik-pabrik tidak hanya berdetak oleh mesin, tapi juga oleh data. Di sini, teknologi bukan hanya alat, melainkan bahasa baru yang mempersatukan efisiensi, keberlanjutan, dan ketepatan.
“Transformasi digital bukan pilihan lagi, melainkan kebutuhan mutlak,” tegas Didik yang kini tengah menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Airlangga. Dalam kalimat-kalimatnya, terasa getar keyakinan bahwa perubahan yang ia pimpin sedang menjejakkan warisan untuk generasi mendatang.
Tak hanya soal bisnis, SIER juga menyelipkan kelembutan dalam setiap langkahnya. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), mereka hadir di tengah masyarakat, menggandeng UMKM, dan memperkuat jalinan sosial di sekitar kawasan. Di balik dinding-dinding industri yang megah, ada tangan-tangan kecil yang dibimbing, ada harapan warga yang disemai.
Suwartomo, sang Komisaris Utama, berdiri dengan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan. “Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Direksi. Mereka telah membawa SIER melampaui ekspektasi,” ucapnya, sembari menyebut bahwa kesuksesan ini tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai tata kelola yang kuat—integritas, dedikasi, dan transparansi.
Dan ketika Prof Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi Universitas Airlangga, menyampaikan pandangannya, suasana semakin dalam dan menyentuh. “Saya bangga pada SIER. Ini bukan hanya korporasi, ini adalah mercusuar. Mereka tumbuh, dan menumbuhkan,” katanya, dengan mata berbinar.
Di penghujung acara, tepuk tangan mengiringi kebanggaan yang bukan saja milik para petinggi, namun juga milik setiap insan yang bekerja dalam diam, yang menyusun data, menjaga sistem, mengawal proyek, dan memastikan mimpi itu tetap menyala.
SIER tidak sedang mengejar keuntungan semata. Ia tengah membangun peradaban baru di mana kawasan industri bisa menjadi rumah yang cerdas, hijau, dan penuh empati. Dan pada tahun buku 2024, rumah itu tak hanya berdiri tegak. Ia bersinar.



