Lsatu.net, Surabaya – Malam di Taman Bungkul biasanya hanya dipenuhi cahaya lampu taman, riuh anak-anak muda, dan aroma kopi dari pedagang kaki lima. Namun sejak Agustus lalu, ada secercah cahaya baru yang menyapa warga Surabaya: Simanis, singkatan dari SIM Taman Bungkul Night Service.
Layanan perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM) yang digagas Satlantas Polrestabes Surabaya ini sebenarnya sederhana, tetapi begitu berarti. Ia hadir bukan di balik dinding kantor polisi, melainkan di jantung kota, di ruang publik tempat masyarakat berkumpul. Seperti namanya, Simanis memang terasa manis, mendekatkan layanan kepolisian dengan cara yang ramah, ringan, dan penuh kehangatan.
Namun, perjalanan Simanis tidak berjalan mulus. Belum genap seminggu sejak diresmikan pada Jumat, 22 Agustus 2025, badai datang. Malam itu, kerumunan massa anarkis menjadikan pos polisi di Taman Bungkul sebagai sasaran amarah. Api membara, membakar habis pos yang baru saja menyalakan harapan.
“Pos Polisi yang berada di Taman Bungkul dibakar massa. Mereka kemudian berjalan ke arah Wonokromo, mengambil dan membawa bendera PAN yang terpasang di sepanjang jalan,” kenang Ardian, warga Gresik yang menjadi saksi mata pada Jumat (29/8) malam.
Sejenak, Simanis seolah mati muda. Hanya tinggal kenangan yang menyisakan arang hitam di sudut taman kota.
Namun, seperti halnya Surabaya yang dikenal sebagai kota pejuang, Simanis tak menyerah pada nasib. Hanya dua minggu berselang, Satlantas Polrestabes Surabaya bergerak cepat. Mereka membersihkan puing, menata ulang layanan, dan kembali membuka Simanis.
“Alhamdulillah kami bisa kembali membuka Simanis dan memberikan pelayanan optimal pada masyarakat Surabaya yang hendak melakukan perpanjangan masa berlaku SIM,” tutur Kasat Lantas Polrestabes Surabaya, AKBP Galih Bayu Raditya, Jumat (12/9) malam, dengan nada lega.
Di balik kata-kata itu, terselip semangat membangun kepercayaan publik. Bagi AKBP Galih, Simanis bukan sekadar pos pelayanan, melainkan simbol kedekatan polisi dengan warganya.
“Tujuan dasar kami adalah mendekatkan layanan kepada masyarakat. Taman Bungkul ini salah satu spot wisata yang ramai sehingga kami hadirkan layanan perpanjangan SIM di sini,” ujarnya.
Berbeda dengan layanan SIM keliling siang hari, Simanis hadir malam hari. Ia menyapa mereka yang siang sibuk bekerja, tetapi tetap ingin taat aturan. Jam operasionalnya Jumat–Sabtu pukul 18.00–21.00 WIB, dengan kemungkinan bergeser sesuai masukan masyarakat. Syaratnya pun ringan, cukup membawa SIM lama dan KTP. Jika masa berlaku sudah lewat, tetap harus membuat baru.
Prosesnya singkat, 15–20 menit, dengan satu loket pelayanan. Jika antusiasme meningkat, jumlah loket dan jam pelayanan bisa ditambah. Bahkan, ada bonus kecil yang hangat, segelas kopi gratis bagi warga yang memperpanjang SIM di Simanis.
Bagi sebagian orang, kopi mungkin hanya minuman. Tetapi di tangan polisi lalu lintas Surabaya, ia menjadi simbol keramahan, bahwa pelayanan publik tak harus kaku dan dingin.
“Kami minta saran dan masukan dari masyarakat. Tidak menutup kemungkinan ke depan kami membuka layanan serupa di tempat lain,” tambah AKBP Galih.
Malam di Taman Bungkul kini kembali semarak. Bukan hanya dengan tawa pengunjung taman, tetapi juga dengan hadirnya Simanis yang bangkit dari abu. Ia menjadi pengingat bahwa pelayanan publik bisa dirasakan dekat, hangat, bahkan manis bahkan setelah melewati tragedi yang pahit. (BA)



