Lsatu.net, Surabaya – Di balik angka-angka zakat yang terkumpul, ada wajah-wajah yang menunggu uluran tangan. Ada keluarga yang berharap anaknya tetap bisa bersekolah, lansia yang membutuhkan tempat tinggal layak, penyandang disabilitas yang ingin hidup lebih mandiri, hingga orang tua tunggal yang setiap hari menukar lelah dengan kebutuhan keluarga.
Bagi mereka, zakat bukan sekadar angka yang berpindah dari tangan muzaki kepada mustahik. Zakat adalah harapan. Dan harapan itu, jika dikelola dengan tepat, semestinya tidak berhenti pada bantuan untuk melewati hari ini.
Dari Gedung Negara Grahadi Surabaya, Minggu (9/8/2026) malam, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencoba meneguhkan kembali harapan tersebut.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melantik lima pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Jawa Timur periode 2026-2031.
Lima pimpinan yang akan membawa gerbong baru BAZNAS Jatim itu yakni H. Mohammad Ghofirin, M.Pd sebagai Ketua; H. Imam Hambali, M.S.E.I sebagai Wakil Ketua I Bidang Pengumpulan; H. A. Afif Amrullah, S.H.I., S.H., M.Pd sebagai Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan.
Kemudian Hj. Amirotul Mu’minah, M.Pd.I sebagai Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Keuangan dan Pelaporan serta Assoc. Prof. Dr. H. Moch Syafi Hidayatullah, Lc., M.Hum., CDAI sebagai Wakil Ketua IV Bidang SDM, Administrasi dan Umum.
Pelantikan itu bukan sekadar pergantian kepengurusan. Ada pekerjaan besar yang menanti: memastikan zakat benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan, sekaligus membuka pintu agar para penerimanya suatu hari mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Dari Memberi untuk Hari Ini, Menuju Berdaya untuk Esok
Khofifah mendorong kepengurusan baru BAZNAS Jatim agar mengubah cara pandang dalam mengelola dan mentasarufkan zakat.
Bantuan, menurut dia, tidak boleh berhenti pada pemenuhan kebutuhan sesaat. Zakat harus mampu menjawab persoalan spesifik yang dihadapi mustahik dan, lebih jauh, menjadi jalan menuju kemandirian.
Di Jawa Timur, masih banyak kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih. Salah satunya komunitas pengemudi ojek online perempuan yang sebagian besar merupakan orang tua tunggal.
Di balik helm dan kendaraan yang mereka kendarai setiap hari, ada tanggung jawab besar yang harus dipikul. Ada anak yang harus diberi makan, biaya sekolah yang harus dibayar, dan rumah yang harus tetap berjalan meski hanya ditopang satu bahu.
Kelompok-kelompok seperti itulah, kata Khofifah, perlu disisir dan didampingi. Bukan hanya dengan bantuan material, tetapi juga dengan sentuhan yang lebih utuh: kesehatan mental, spiritual, dan pemberdayaan ekonomi.
“Ketika aspek fisik, kesehatan mental, spiritual dan ekonomi bisa kita intervensi secara beriringan, insyaallah mustahik tidak hanya terbantu untuk melewati persoalan hari ini, tetapi juga memiliki jalan untuk bangkit dan menjadi lebih mandiri,” kata Khofifah.
Pesan itu menjadi penting karena kemiskinan sering kali bukan hanya soal kurangnya uang. Di dalamnya ada persoalan pendidikan, kesehatan, kesempatan bekerja, ketahanan keluarga, bahkan rasa percaya diri untuk bangkit.
Karena itu, zakat diharapkan hadir lebih jauh. Ia tidak sekadar menjadi tangan yang memberi, tetapi juga menjadi tangan yang menuntun.
Menyusuri Mereka yang Tak Selalu Terlihat
Khofifah meminta BAZNAS Jatim terus menyisir kelompok masyarakat yang membutuhkan intervensi cepat dan spesifik.
Beasiswa bagi anak dari keluarga kurang mampu, bantuan sosial, hingga pemberdayaan ekonomi merupakan sebagian kebutuhan yang masih harus dijawab.
Potensi zakat yang besar, menurutnya, harus dikelola secara amanah, profesional, dan transparan. Namun, lebih dari itu, pengelolaannya harus semakin berorientasi pada pemberdayaan. Sebab zakat memiliki kekuatan untuk mengubah posisi seseorang.
Hari ini menjadi penerima, tetapi suatu saat diharapkan dapat menjadi orang yang mampu membantu orang lain. Dari mustahik menuju kemandirian. Dari sekadar bertahan hidup menuju kehidupan yang lebih bermartabat.
Di titik itulah zakat tidak lagi hanya menjadi instrumen konsumtif, melainkan menjadi salah satu pengungkit transformasi sosial.
Menjaga Amanah, Memperkuat Kepercayaan
Pimpinan BAZNAS RI Bidang Organisasi, Kelembagaan dan Pembinaan Daerah selaku Pembina Wilayah Jawa Timur, Hj Saidah Sakwan, menyambut pelantikan lima pimpinan BAZNAS Jatim tersebut.
Ia mengingatkan bahwa jabatan di BAZNAS membawa tanggung jawab besar. Dana yang dikelola berasal dari kepercayaan masyarakat. Karena itu, akuntabilitas, kompetensi, dan tata kelola menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar.
BAZNAS Jatim juga dituntut membangun konsolidasi dengan berbagai pihak agar pengelolaan zakat mampu menjawab kebutuhan mustahik secara lebih efektif.
“Sinkronisasi konsolidasi menjadi penting. BAZNAS Jatim harus menjaga tata kelola sekaligus menjadi bagian problem solving dari seluruh kebutuhan mustahik dan memberikan dampak bagi masyarakat Jawa Timur,” ujar Saidah.
Di tengah kompleksitas persoalan sosial, BAZNAS dipandang sebagai salah satu mitra strategis pemerintah.Zakat menjadi kekuatan masyarakat yang dapat dipertemukan dengan program pembangunan, selama dikelola secara profesional dan tepat sasaran.
Sembilan Jalan Baru BAZNAS Jatim
Usai dilantik, Ketua BAZNAS Jatim HM Ghofirin membawa semangat baru. Ia menegaskan BAZNAS Jatim akan memasuki fase transformasi yang inklusif, profesional, dan berdampak.
Gerak itu akan dituangkan melalui Nawa Pradana, sembilan prioritas strategis yang mengintegrasikan Asta Strategis BAZNAS RI dengan Nawa Bhakti Satya Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Nawa Pradana ini menjadi pijakan BAZNAS Jatim dalam mengoptimalkan pengelolaan zakat, infak, sedekah (ZIS) dan dana sosial keagamaan lainnya untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur,” ujar Ghofirin.
Sembilan prioritas itu adalah BAZNAS Jatim Peduli, BAZNAS Jatim Cerdas, BAZNAS Jatim Sehat, BAZNAS Jatim Sejahtera, BAZNAS Jatim Lestari, BAZNAS Jatim Tangguh, BAZNAS Jatim Amanah, BAZNAS Jatim Inklusif, dan BAZNAS Jatim Sinergi. Masing-masing membawa misi yang saling melengkapi.
BAZNAS Jatim Peduli diarahkan memperkuat pelayanan kemanusiaan dan dakwah, termasuk memenuhi kebutuhan dasar kelompok rentan seperti dhuafa, yatim, lansia, penyandang disabilitas, dan gharimin. Programnya juga mencakup dukungan hunian layak dan penguatan kegiatan sosial keagamaan.
BAZNAS Jatim Cerdas akan bergerak melalui beasiswa, penguatan pendidikan vokasi, serta pemerataan akses pendidikan bagi masyarakat dhuafa.
Sementara BAZNAS Jatim Sejahtera diarahkan untuk memperkuat ekonomi penerima manfaat. Bantuan tidak berhenti ketika kebutuhan dasar terpenuhi, tetapi dikembangkan agar menjadi modal menuju kemandirian ekonomi.
Ada pula BAZNAS Jatim Sinergi yang akan memperluas jaringan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) sekaligus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, lembaga amil zakat, dunia usaha, ulama, dan lembaga pendidikan.
“Sinergi ini menjadi penting untuk mengoptimalkan pengumpulan serta pendayagunaan ZIS dan dana sosial keagamaan lainnya, sekaligus memperkuat literasi dan edukasi agar basis muzaki semakin luas,” kata Ghofirin.
Agar Tangan yang Menerima Kelak Bisa Memberi
Pada akhirnya, perjalanan BAZNAS Jatim lima tahun ke depan bukan hanya tentang seberapa banyak zakat yang berhasil dihimpun. Lebih jauh dari itu, ada pertanyaan tentang berapa banyak kehidupan yang berhasil diubah.
Berapa banyak anak yang tetap bisa menatap masa depan karena beasiswa. Berapa banyak keluarga yang kembali memiliki penghasilan setelah mendapatkan pendampingan. Berapa banyak kelompok rentan yang perlahan menemukan keberanian untuk bangkit.
Dan mungkin, suatu hari nanti, orang-orang yang hari ini menerima zakat itu tidak lagi datang sebagai mustahik. Mereka datang sebagai muzaki.
Membawa sebagian rezekinya, lalu menyerahkannya kepada tangan lain yang sedang membutuhkan. Di situlah lingkaran kebaikan menemukan maknanya. Zakat bukan sekadar tentang memberi kepada mereka yang kekurangan.
Zakat adalah tentang membuka jalan agar mereka yang pernah berada di bawah dapat perlahan berdiri, berjalan, dan akhirnya mampu mengulurkan tangan kepada sesama.
Sebab ukuran keberhasilan sebuah zakat bukan semata ketika bantuan telah sampai. Tetapi ketika bantuan itu mampu menyalakan harapan, menguatkan langkah, dan mengubah kehidupan. (DK)



