Dari Bonggol Jagung hingga Alat Pertanian, Karya Mahasiswa Umsura Menanti Jalan Panjang Menuju Masyarakat

0
14
Foto: (istimewa)

Lsatu.net, Surabaya – Di sebuah ruang pamer, karya-karya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) tak lagi sekadar menjadi benda yang dipajang. Di balik prototipe, alat sederhana, hingga olahan limbah pertanian, tersimpan sebuah harapan: agar pengetahuan yang lahir dari kampus benar-benar menemukan jalan pulang kepada masyarakat.

Harapan itu mengemuka dalam penutupan dan pameran Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2026 Umsura. Sejumlah inovasi mahasiswa dipamerkan sebagai bukti bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk melahirkan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan, perjalanan sebuah inovasi dari prototipe hingga menjadi produk yang bisa digunakan masyarakat bukanlah jalan yang pendek.

Menurut Emil, tantangan pertama yang harus dilewati adalah persoalan perizinan dan lisensi. Setelah itu, inovasi juga harus melalui proses panjang apabila hendak diproduksi secara massal.

“Belanja inovasi memang kesulitannya itu bagaimana produk bisa betul-betul dijual kepada umum. Tentu perlu segala izin dan lisensi. Inilah yang kemudian menjadi tantangan,” kata Emil di Balai Pemuda Surabaya, Selasa (11/8/2026).

Tantangan berikutnya adalah bagaimana memastikan sebuah produk mampu diproduksi dalam jumlah besar dengan biaya dan proses yang efisien. Sebuah prototipe yang berhasil dibuat di laboratorium belum tentu langsung siap diproduksi secara massal.

Karena itu, menurut Emil, diperlukan optimasi pada lini produksi agar sebuah inovasi tidak berhenti sebagai karya pameran.

Pengalaman tersebut, kata dia, sebenarnya sudah pernah dilakukan pemerintah bersama perguruan tinggi ketika pandemi Covid-19 melanda. Saat itu, berbagai inovasi didorong untuk menjawab kebutuhan yang sangat mendesak, salah satunya pengembangan ventilator.

Ada pula inovasi berbasis nanoteknologi dengan memanfaatkan bahan tembaga pada cat dan koper yang dirancang untuk membantu mengurangi keberadaan virus maupun bakteri.

Pengalaman itu menunjukkan satu hal: ketika kebutuhan masyarakat bertemu dengan kemampuan riset dan inovasi perguruan tinggi, sebuah karya dapat menemukan manfaat yang jauh lebih besar.

Kini, Umsura kembali menunjukkan potensi tersebut melalui karya-karya mahasiswa yang lahir dari proses KKN.

Emil menyebut Umsura telah memiliki sedikitnya 11 hingga 12 karya yang tercatat dalam kekayaan intelektual, termasuk hak cipta sederhana.

Salah satu yang menarik adalah pemanfaatan bonggol jagung dan sekam padi. Limbah yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai itu dapat diolah menjadi biochar. Bahkan, proses tersebut juga menghasilkan asap cair yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida.

Di tempat lain, terdapat pula alat karya mahasiswa yang telah menarik perhatian masyarakat di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo.

Bagi Emil, ketertarikan masyarakat terhadap karya tersebut menjadi momentum penting. Sebab, sebuah inovasi baru benar-benar menemukan maknanya ketika mulai digunakan dan menjawab kebutuhan nyata.

“Makanya tadi kita kasih kesempatan untuk dicoba di lapangan. Nanti apa yang menjadi kendala, kita kemudian akan atasi bersama-sama,” ujarnya.

Namun, Emil menyadari tidak semua inovasi akan berhasil sampai pada tahap produksi massal. Ada karya yang mungkin berhenti sebagai prototipe. Ada pula yang membutuhkan penyempurnaan berkali-kali sebelum benar-benar layak digunakan masyarakat. Tetapi, menurut dia, kegagalan bukan alasan untuk membiarkan karya mahasiswa berhenti di ruang pamer.

“Perjalanannya masih panjang, dari mulai mereka membuat prototipe sampai itu bisa dijual massal. Dan nggak semua akan berhasil. Tapi kalau nggak ada yang mau mengurus dari tahap ini sampai sini, ya nanti karya-karya kita itu hanya akan selesai di bazar, tidak pernah termanfaatkan,” kata Emil.

Di titik itulah peran banyak pihak menjadi penting. Perguruan tinggi tidak mungkin berjalan sendiri. Pemerintah daerah, dunia usaha, masyarakat, lembaga riset, hingga berbagai pemangku kepentingan perlu mengambil bagian agar inovasi yang lahir dari kampus memiliki ruang untuk tumbuh.

Emil menyebut keberadaan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) menjadi salah satu instrumen untuk mempertemukan potensi riset dengan kebutuhan daerah.

BRIDA, kata dia, memiliki tugas menggalang potensi riset dan inovasi di daerah masing-masing. Sebab, mendorong Indonesia menjadi negara yang inovatif tidak mungkin hanya mengandalkan anggaran pemerintah daerah.

“Kalau cuma mengandalkan APBD, ya tentu sangat-sangat jauh dari apa yang dibutuhkan untuk bisa mendorong Indonesia menjadi negara yang inovatif,” tuturnya.

Karena itu, keterlibatan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam ekosistem tersebut. Di sisi lain, Rektor Umsura Mundakir menegaskan, keterlibatan kampus dalam persoalan masyarakat merupakan bagian dari komitmen institusi.

KKN, menurut dia, bukan semata-mata agenda akademik yang harus dituntaskan mahasiswa. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan dengan kehidupan masyarakat.

“Ini adalah bagian dari komitmen kampus untuk terus bagaimana keberadaan kampus itu bisa menjawab persoalan dan berdampak langsung kepada kebutuhan masyarakat,” ujar Mundakir.

Umsura, kata dia, akan terus membangun iklim inovasi di lingkungan kampus. Tidak hanya dosen, mahasiswa juga didorong untuk melahirkan gagasan-gagasan yang aktual dan dapat dimanfaatkan secara langsung.

Karya-karya yang dipamerkan dalam penutupan KKN itu pun menjadi semacam titik awal. Dari bonggol jagung yang sebelumnya dianggap limbah, sekam padi yang tersisa dari aktivitas pertanian, hingga perangkat yang dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat, semuanya membawa pesan yang sama: ilmu pengetahuan akan menjadi lebih berarti ketika ia keluar dari ruang kelas dan menyentuh kehidupan.

Mungkin tidak semua prototipe akan menjadi produk. Mungkin tidak semua gagasan akan menemukan pasar. Tetapi selama ada tangan yang bersedia mendampingi, ada lembaga yang membuka jalan, dan ada masyarakat yang mau mencoba, karya-karya itu masih memiliki kesempatan untuk tumbuh.

Sebab, pada akhirnya, keberhasilan sebuah inovasi bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang diciptakan. Ia juga tentang sejauh mana pengetahuan mampu menjadi jawaban bagi persoalan manusia. Dan dari ruang pamer KKN Umsura, perjalanan itu baru saja dimulai. (Dian Kurniawan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini