Dua Perjalanan, Satu Pesan: Prestasi Lahir dari Perjuangan
Di balik toga dan gelar wisudawan terbaik, selalu ada cerita yang tidak terlihat di atas panggung. Ada malam-malam panjang, keraguan, kegagalan, bahkan keinginan untuk berhenti. Namun, justru dari perjalanan itulah sebuah prestasi menemukan maknanya.
Kisah Vanessa Aulia Syifa Yudiasmara, wisudawan terbaik Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menjadi salah satu gambaran tentang bagaimana ilmu dapat diubah menjadi solusi.
Melalui skripsinya, Vanessa mengembangkan aplikasi web e-Government berbasis Laravel dan MySQL untuk membantu pengelolaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Sistem tersebut dirancang untuk membantu menentukan prioritas penanganan infrastruktur berdasarkan sejumlah kriteria.
Bagi Vanessa, teknologi bukan sekadar kumpulan kode dan rumus. Di balik sistem yang ia bangun, ada upaya untuk menjawab persoalan nyata: ketika bencana datang dan banyak infrastruktur rusak, bagaimana menentukan mana yang harus mendapatkan penanganan lebih dahulu?
Proses itu tentu tidak mudah. Vanessa harus belajar secara mandiri, mencari referensi, memahami metode pendukung keputusan, hingga menerjemahkan rumus-rumus matematis ke dalam bahasa pemrograman.
Namun, tantangan akademik bukan satu-satunya ujian yang harus ia lewati. Di tengah penyelesaian skripsi, ayahnya yang berprofesi sebagai arsitek meninggal dunia. Sosok yang sebelumnya turut mengarahkannya pada dunia teknologi itu pergi ketika tugas akhirnya belum selesai.
Vanessa sempat berhenti. Ada kehilangan yang membuat langkah seseorang terasa begitu berat. Tetapi perjalanan hidup memaksanya untuk memilih: terus terdiam dalam kesedihan atau kembali menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai.
Dengan dukungan dosen pembimbing dan orang-orang di sekitarnya, Vanessa perlahan kembali mengerjakan skripsinya hingga tuntas.
Dari sana, lahir sebuah pelajaran sederhana tetapi dalam konsistensi bukan berarti seseorang tidak pernah jatuh. Konsistensi adalah keberanian untuk kembali berdiri setelah sempat berhenti.
Sementara itu, kisah Iftitah Rahma Safira, wisudawan terbaik Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unesa, membawa cerita yang berbeda.
Iftitah memilih pendidikan sebagai jalan pengabdian. Melalui tugas akhirnya, ia menghadirkan “Nina’s Smart Choice”, sebuah game edukatif berbasis web yang dirancang untuk membantu siswa kelas IV memahami konsep kebutuhan dan keinginan.
Sebuah konsep ekonomi yang bagi sebagian anak mungkin terasa abstrak, ia ubah menjadi permainan yang lebih dekat dengan dunia mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa game tersebut dapat meningkatkan hasil belajar IPAS sekaligus menjadi media pembelajaran yang interaktif, kontekstual, dan bermakna.
Namun, seperti Vanessa, perjalanan Iftitah juga tidak selalu berjalan mulus. Kejenuhan pernah datang ketika skripsi terasa begitu panjang. Untuk mengatasinya, ia memilih mencari suasana baru, berjalan-jalan, atau mengerjakan tugas bersama teman agar tidak menghadapi tekanan seorang diri.
Ada pula dukungan dosen pembimbing yang menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Menariknya, pengalaman Iftitah tidak hanya dibentuk di ruang kelas. Ketika mengikuti KKN di Banyuwangi dan Program Surabaya Mengajar di SDN Pagesangan Surabaya, ia menemukan kenyataan bahwa pendidikan tidak selalu hadir dalam kondisi yang sama.
Ada sekolah dengan sarana memadai. Ada pula lingkungan pendidikan yang masih harus beradaptasi dengan keterbatasan.
Tetapi dari pengalaman itu, Iftitah menemukan satu hal yang menurutnya jauh lebih penting: anak-anak, di mana pun mereka berada, memiliki semangat belajar yang sama.
Kesadaran itu semakin menguatkan keinginannya untuk menjadi guru. Setelah lulus, Iftitah ingin melanjutkan Pendidikan Profesi Guru dan mengikuti seleksi CPNS.
Baginya, menjadi pendidik bukan hanya tentang menyampaikan pelajaran. Guru adalah seseorang yang dapat meninggalkan sesuatu yang bermakna dalam perjalanan hidup murid-muridnya.
Bukan Sekadar Wisudawan Terbaik
Vanessa dan Iftitah datang dari bidang yang berbeda. Vanessa berbicara melalui teknologi. Ia menciptakan sistem untuk membantu penanganan pascabencana.
Iftitah berbicara melalui pendidikan. Ia menciptakan permainan untuk membantu anak-anak belajar.
Tetapi keduanya bertemu pada satu titik yang sama ilmu yang mereka dapatkan tidak berhenti sebagai nilai di atas kertas.
Ilmu itu mereka coba ubah menjadi sesuatu yang berguna. Dan mungkin, di situlah sesungguhnya makna menjadi wisudawan terbaik.
Bukan semata-mata tentang siapa yang memperoleh indeks prestasi tertinggi. Bukan pula tentang siapa yang paling cepat menyelesaikan studi.
Melainkan tentang bagaimana seseorang mampu melewati perjalanan panjang dengan segala persoalannya, kemudian membawa ilmu yang dimiliki untuk memberi manfaat.
Vanessa mengajarkan bahwa kehilangan tidak harus menjadi akhir dari perjalanan. Iftitah menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Keduanya seperti mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi tentang menemukan alasan mengapa ilmu itu harus diperjuangkan.
Sebab pada akhirnya, toga akan disimpan, seremoni wisuda akan berlalu, dan foto bersama akan menjadi kenangan.
Tetapi karya dan manfaat yang ditinggalkan kepada orang lain akan terus berjalan. Dari kampus, mereka membawa lebih dari sekadar gelar. Mereka membawa cerita tentang perjuangan, ketekunan, dan harapan bahwa ilmu yang diperoleh hari ini suatu hari dapat menjadi cahaya bagi kehidupan orang lain. (DK)



