Di Ruang Perawatan dan Ruang Duka, Negara Hadir Menguatkan Korban KM Mutiara Sentosa II

0
6
Foto: (istimewa)

Lsatu.net, Surabaya – Di balik hiruk pikuk aktivitas Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Selasa (4/8/2026), tersimpan kisah pilu yang masih menyelimuti para korban musibah terbakarnya KM Mutiara Sentosa II. Di ruang-ruang perawatan, sejumlah penyintas masih berjuang memulihkan luka yang membekas, bukan hanya di tubuh, tetapi juga di hati. Sementara di ruang duka, keluarga korban yang kehilangan orang tercinta perlahan mencoba menerima kenyataan yang begitu berat.

Di tengah suasana itu, Wakil Menteri Perhubungan Komjen Pol. (Purn.) Drs. Suntana, M.Si., datang didampingi Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Drs. Nanang Avianto, M.Si., beserta para Pejabat Utama Polda Jawa Timur. Kehadiran mereka bukan sekadar agenda kunjungan kerja, melainkan membawa pesan bahwa para korban tidak menghadapi musibah ini sendirian.

Satu per satu korban yang masih dirawat di RS PHC Pelabuhan Tanjung Perak disapa. Kalimat-kalimat penyemangat disampaikan dengan harapan mampu menguatkan semangat mereka untuk bangkit dari trauma yang masih menyelimuti.

Perjalanan kemudian berlanjut ke RS Bhayangkara H.S. Samsoeri Mertojoso Surabaya. Di tempat inilah proses identifikasi korban meninggal dunia dilakukan. Suasana haru begitu terasa ketika santunan diserahkan secara simbolis kepada keluarga korban.

Bantuan sebesar Rp50 juta dari PT Jasa Raharja (Persero) dan Rp75 juta dari PT Jasaraharja Putera untuk masing-masing korban meninggal memang tidak akan pernah mampu menggantikan sosok yang telah pergi. Namun, santunan itu menjadi simbol bahwa negara hadir, menyampaikan empati sekaligus berusaha meringankan beban keluarga yang tengah berduka.

Di hadapan para korban dan keluarga, Wamenhub Suntana menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Polda Jawa Timur yang sejak awal bergerak bersama menangani musibah tersebut.

“Tanpa bantuan Polda Jawa Timur, kami merasa seperti kaki yang pincang,” ucapnya.

Ungkapan sederhana itu menggambarkan betapa penanganan bencana tidak mungkin dilakukan sendiri. Dibutuhkan sinergi, kecepatan, dan kepedulian dari banyak pihak agar setiap korban memperoleh pertolongan secepat mungkin.

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Nanang Avianto menegaskan bahwa seluruh personel Polda Jatim akan terus berada di garis depan, mendukung setiap tahapan penanganan, mulai dari pengamanan lokasi, proses evakuasi, koordinasi lintas instansi, hingga pendampingan bagi para korban beserta keluarganya.

“Sejak insiden terjadi, Polda Jatim telah mengerahkan seluruh sumber daya untuk mendukung proses penanganan korban bersama Kementerian Perhubungan, Basarnas, tenaga kesehatan, dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Irjen Nanang.

Di tengah duka yang masih membayangi, kolaborasi berbagai institusi menjadi secercah harapan bagi para korban. Sebab dalam setiap musibah, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan materi, tetapi juga kehadiran, kepedulian, dan keyakinan bahwa mereka tidak pernah ditinggalkan menghadapi cobaan seorang diri.

Musibah KM Mutiara Sentosa II menyisakan luka mendalam bagi banyak keluarga. Namun dari lorong-lorong rumah sakit itu pula, terlihat bahwa empati dapat menjadi kekuatan yang membantu mereka perlahan berdiri kembali, menatap hari esok dengan harapan yang belum sepenuhnya padam. (BA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini