Dari Timur ke Barat, Mimpi-Mimpi Muda Bertemu di Soekarno Cup 2026

0
8
Foto: (istimewa)

Lsatu.net, Surabaya – Di sebuah lapangan hijau, mimpi sering kali lahir dengan cara yang sederhana. Berawal dari kaki-kaki kecil yang menendang bola di tanah kampung, lalu tumbuh menjadi harapan yang diam-diam dipelihara oleh keluarga, pelatih, hingga lingkungan sekitar. Agustus ini, mimpi-mimpi itu akan bertemu dalam satu panggung bernama Soekarno Cup 2026.

Turnamen sepak bola usia muda yang telah memasuki edisi ketiganya itu kembali digelar dengan membawa semangat yang lebih besar. Bukan sekadar mencari juara, tetapi mempertemukan anak-anak bangsa dari ujung timur Papua hingga ujung barat Sumatera Utara dalam bahasa yang sama: sepak bola.

Jawa Timur mendapat kehormatan menjadi tuan rumah setelah keluar sebagai juara pada penyelenggaraan Soekarno Cup 2025. Sebelumnya, turnamen ini pernah digelar di Jakarta pada edisi perdana dan berlanjut di Bali pada tahun kedua. Kini, estafet pembinaan talenta muda itu berlabuh di provinsi yang dikenal memiliki tradisi sepak bola kuat.

Mulai 10 hingga 24 Agustus 2026, sebanyak 16 tim dari berbagai penjuru Indonesia akan saling menguji kemampuan. Namun, yang dipertaruhkan sejatinya bukan hanya trofi dan hadiah ratusan juta rupiah, melainkan kesempatan untuk menunjukkan bahwa bakat besar bisa lahir dari lapangan-lapangan sederhana di pelosok negeri.

Wakil Ketua Pelaksana Soekarno Cup 2026 Jawa Timur, Eri Eriawan, mengatakan turnamen ini memang dirancang sebagai ruang bagi potensi-potensi muda yang selama ini belum banyak mendapat perhatian.

“Kami ingin Soekarno Cup menyatukan talenta muda lewat sepak bola, sekaligus memperluas ekosistem pembinaan bagi anak-anak muda Indonesia,” ujarnya di Surabaya, Selasa (4/8/2026).

Komitmen itu diterjemahkan dalam regulasi yang ketat. Panitia menutup pintu bagi pemain yang pernah berstatus profesional maupun mantan pemain Elite Pro Academy (EPA), Liga 1, Liga 2, dan Liga 3 Indonesia. Langkah tersebut diambil agar kompetisi tetap menjadi rumah bagi pemain akar rumput yang masih berjuang mencari jalan menuju panggung yang lebih tinggi.

Setiap tim hanya diperbolehkan membawa 25 pemain, terdiri atas 20 pemain kelompok usia U-17 dan lima pemain senior. Dari lima pemain senior itu, hanya tiga yang boleh berada di lapangan pada waktu bersamaan. Aturan tersebut menjadi penyeimbang agar pemain muda tetap menjadi pusat perhatian sekaligus memperoleh pengalaman bermain yang berharga.

Ada warna lain yang turut memperkaya Soekarno Cup tahun ini. Di tengah hiruk-pikuk pertandingan, tiga wasit perempuan berlisensi PSSI akan memimpin jalannya laga sejak fase penyisihan hingga babak gugur. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa sepak bola Indonesia perlahan membuka ruang yang semakin luas bagi kesetaraan dan profesionalisme.

Tak hanya memanjakan para pemain, Soekarno Cup juga menjadi panggung untuk menunjukkan wajah baru Jawa Timur sebagai daerah dengan infrastruktur sepak bola yang terus berkembang. Pertandingan akan berlangsung di Stadion Gelora 10 November Surabaya, Lapangan Thor Surabaya, Stadion Gelora Bangkalan, dan Stadion Gelora Joko Samudro Gresik. Sementara laga final akan dipentaskan di Stadion Gelora Bung Tomo, stadion megah yang menjadi kebanggaan masyarakat Surabaya.

Pengarah Panitia Pelaksana Soekarno Cup, Deni Wicaksono, mengatakan penyebaran lokasi pertandingan bukan tanpa alasan. Selain mendekatkan atmosfer kompetisi kepada masyarakat, langkah itu juga memperlihatkan kesiapan Jawa Timur sebagai salah satu pusat pembinaan sepak bola nasional.

“Pertandingan sengaja kami sebar untuk menunjukkan bahwa Jatim memiliki banyak stadion yang bagus. Soekarno Cup memberikan ruang bagi anak muda unjuk skill untuk mencari bibit unggul menuju klub profesional. Kami mohon dukungan dari seluruh warga Jatim, khususnya pecinta sepak bola,” katanya.

Di balik gegap gempita pertandingan, panitia pusat memandang Soekarno Cup sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan sepak bola Indonesia. Panitia Pusat Soekarno Cup 2026, Ono Surono, menyebut turnamen ini merupakan bentuk komitmen dalam membina bibit-bibit pesepak bola usia muda secara berkelanjutan.

“Ini adalah pencarian bakat yang kita harapkan bisa melahirkan pemain bola tingkat nasional bahkan dunia. Semangat yang diusung adalah sportivitas, persatuan dan kesatuan, serta gotong royong sebagaimana ajaran Bung Karno,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Nasional Komarudin Watubun memberikan apresiasi atas kesiapan Jawa Timur menyelenggarakan ajang tersebut. Menurutnya, seluruh persiapan dilakukan dengan serius sehingga menjadi modal penting bagi suksesnya penyelenggaraan Soekarno Cup edisi ketiga.

Pada akhirnya, Soekarno Cup bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi pada 24 Agustus nanti. Lebih dari itu, turnamen ini adalah tentang anak-anak muda yang datang membawa mimpi dari berbagai sudut Indonesia. Sebagian mungkin akan pulang membawa medali, sebagian lainnya pulang dengan pengalaman. Namun, semuanya kembali dengan keyakinan bahwa mimpi menjadi pesepak bola profesional selalu layak diperjuangkan.

Sebab, dari lapangan-lapangan itulah, masa depan sepak bola Indonesia perlahan sedang ditulis. (Dian Kurniawan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini