Kudus Riwayatmu Kini: Kembali Resik dan Kian Apik

0
9
Foto: (istimewa)

Lsatu.net, Surabaya – Naik kereta api, tut-tut-tut… suara lirih itu menggema pelan dari earphone saya. Bukan sekadar lagu anak-anak, melainkan denting rindu yang lama tak bersua. Siang itu, Selasa 18 November 2025, setelah sekian purnama, akhirnya saya kembali duduk di gerbong kereta jarak jauh, membelah perjalanan Surabaya – Semarang.

Ada rasa haru yang sulit saya jelaskan. Mungkin karena perjalanan kali ini bukan perjalanan biasa. Ada sesuatu yang menunggu di ujung rel, sesuatu yang membuat hati saya berdebar seperti anak kecil yang hendak pergi piknik ke Kudus, Jawa Tengah.

Selama ini, nama Kudus hanya singgah di kepala saya lewat bungkus rokok atau cerita sepotong tentang Sunan Kudus. Saya tak pernah benar-benar tahu seberapa besar dan seberapa istimewa kota ini hingga langkah pertama saya menjejak tanahnya. Dan sejak saat itu, Kudus mulai membuka diri pelan, hangat, penuh kejutan.

Pertama Menginjak Kudus: Kota yang Ternyata Melampaui Bayangan

Jujur, saya sempat bertanya-tanya: “Jika Kediri punya sejarah kerajaan besar dan industri rokok kuat, apa yang membuat Kudus begitu terkenal?”

Saya mencari jawabannya selama perjalanan kereta, dan internet memberi saya dua kata kunci yaitu Sunan Kudus dan Djarum. Namun jawaban sebenarnya baru saya temukan ketika tiba di kota ini. Sebab Kudus bukan hanya tentang ikon, ia tentang napas sejarah, denyut kreativitas, dan etos kerja yang dibangun dengan cinta.

Foto: (istimewa)

SMK RUS Kudus: Tempat di Mana Imajinasi Bertemu Kenyataan

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk jatuh hati. Begitu saya memasuki lingkungan SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus, yang merupakan sekolah binaan Djarum Foundation, mata saya langsung takjub. Bangunannya bersih, tertata, seakan setiap dinding menyimpan imajinasi yang sedang mekar.

Bahkan seorang kawan jurnalis di Surabaya pernah berkata bahwa anaknya ingin sekali bersekolah di sini. Dan setelah saya melihat sendiri, saya mengerti alasannya.

Rico Andriansyah, Kepala Konsentrasi Keahlian Animasi 3D SMK RUS, menjelaskan dengan penuh kebanggaan bahwa sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi laboratorium mimpi bagi generasi kreatif Indonesia.

“Kami memiliki 1.200 murid dengan lima konsentrasi keahlian. Seleksinya ketat, sesuai kompetensi dan minat bakat siswa,” ujar Rico dalam Media Gathering Bakti Lingkungan Djarum Foundation di Kudus, Rabu (19/11/2025).

Yang membuat saya terpikat adalah konsep teaching factory mereka, ruang yang beroperasi layaknya studio profesional, tempat siswa mengerjakan proyek nyata untuk klien sungguhan.

Di beberapa ruangan, kami bahkan tidak diperbolehkan mendokumentasikan prosesnya karena terikat prosedur. Sungguh, siswa-siswa ini sudah bekerja seperti para profesional sebelum lulus. Dan hasilnya? Menakjubkan.

Dari serial Wakaki Bow Kids yang sudah tayang hingga Season 2, hingga film pendek Jelangkung Golek Wangsulan yang menembus nominasi Festival Film Indonesia 2024 dan festival internasional. Karya anak-anak SMK ini seperti cara Kudus berbisik bahwa kreativitas tak mengenal batas kota.

Foto: (istimewa)

Djarum Oasis Kretek Factory: Saat Kudus Diajari Bernapas Lebih Bersih

Jika SMK RUS menunjukkan kreativitas, maka Djarum OASIS Kretek Factory menunjukkan kepedulian. Tempat ini seperti jantung hijau yang memompa kehidupan baru ke Kabupaten Kudus.

Pusat Pengolahan Organik (PPO) yang berdiri sejak 2013 ini muncul dari keresahan sederhana, tumpukan sampah dapur di TPA Tanjungrejo yang semakin menggunung.

Timothy Ariel dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation menjelaskan hal itu dengan wajah yang ramah, namun nada serius.

“Dari keresahan itu, kami membangun PPO. Kapasitas maksimalnya 100 ton sehari, sekarang baru 50 ton yang terolah,” ujarnya.

Saya berkeliling, memperhatikan bagaimana sampah dapur yang biasanya berbau menyengat justru diolah tanpa aroma menusuk, standar pengolahannya mengikuti Singapura dan Australia. Lebih dari itu, hasil komposnya diberikan gratis kepada masyarakat. Gratis, sebuah kata yang langka di zaman sekarang, tetapi nyata di Kudus.

Di samping PPO, ada Pusat Pembibitan Tanaman (PPT). Ribuan bibit pohon dari yang langka hingga buah-buahan yang dirawat dengan tekun. Dan seperti kompos, bibitnya pun boleh diambil masyarakat secara cuma-cuma.

Dari sinilah program Trees for Life tumbuh. Bayangkan 2,3 juta pohon trembesi kini berjajar indah di Indonesia, sebagian besar berasal dari Kudus. Seakan-akan, Kudus sedang menyiramkan kesegaran ke seluruh negeri.

Foto: (istimewa)

Sunan Kudus: Leluhur yang Mengirim Doa Tanpa Suara

Namun, perjalanan ini seakan tak lengkap tanpa menyinggung sosok yang menjadi ruh spiritual kota ini yaitu Sunan Kudus.

Nama asli beliau adalah Ja’far Shadiq, seorang wali yang mengajarkan Islam dengan cara yang lembut, di mana toleransi bukan sekadar konsep, melainkan tindakan nyata.

Larangan menyembelih sapi, desain Masjid Menara Kudus yang memadukan gaya Hindu-Buddha, hingga dakwah yang tanpa kekerasan, semua adalah jejak kearifan yang membuat Kudus tumbuh damai.

Sunan Kudus seperti sosok yang mengetuk pintu langit, menaburkan benih kebaikan yang kini berbuah menjadi keberkahan kota ini.

Foto: (istimewa)

Kudus, Aku Pulang dengan Hati yang Penuh

Beberapa hari saya habiskan bersama rombongan Bakti Lingkungan Djarum Foundation di kota ini. Dan entah sejak kapan, saya merasa Kudus telah menyelinap masuk ke hati saya, diam-diam tetapi kuat.

Kudus bukan hanya kota rokok. Bukan hanya kota wali. Bukan hanya kota industri. Kudus adalah perpaduan antara sejarah, kreativitas, dan kepedulian yang berjalan bergandengan seperti sahabat lama.

Dan Djarum, lewat rangkaian program sosialnya, seakan mengembalikan kecemerlangan itu membuat Kudus kembali resik, kian apik, dan semakin layak dikenal dunia.

Ketika saya meninggalkan kota ini, kereta tak lagi terdengar “tut-tut-tut”. Yang terdengar adalah gema syukur. Bahwa saya pernah menjejak Kudus, dan Kudus telah meninggalkan jejak di hati saya. (Dian Kurniawan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini