Lsatu.net, Pasuruan – Pagi itu, halaman Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Kota Pasuruan terasa berbeda. Ratusan Bendera Merah Putih berada di tangan para siswa, guru, dan seluruh civitas akademika.
Di tengah suasana yang mulai memasuki bulan kemerdekaan, warna merah dan putih seolah menghidupkan kembali ingatan tentang perjalanan panjang bangsa ini. Tentang perjuangan, pengorbanan, dan harapan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di Jalan Erlangga Selatan, Purworejo, Kota Pasuruan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Komandan Jenderal Akademi TNI Letjen TNI R. Sidharta Wisnu Graha membagikan ratusan Bendera Merah Putih kepada keluarga besar Sekolah Rakyat Terintegrasi 2.
Bukan sekadar membagikan bendera, Khofifah membawa pesan yang jauh lebih dalam: bahwa kemerdekaan harus terus dirawat oleh generasi yang lahir jauh setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Suasana pun semakin semarak ketika Khofifah mengajak seluruh peserta menyanyikan lagu Hari Merdeka dan Halo-Halo Bandung.
Suara anak-anak berpadu dengan lantunan lagu perjuangan. Sejenak, halaman sekolah itu seperti menjadi ruang kecil untuk mengenang masa lalu sekaligus menatap masa depan.
“Karena ini sudah memasuki bulan kemerdekaan, saya rasa ini momentum tepat untuk menggelorakan semangat kemerdekaan,” ujar Khofifah.
Bukan Sekadar Selembar Kain
Bagi Khofifah, Merah Putih bukan sekadar kain yang dikibarkan setiap bulan Agustus. Di balik dua warna itu tersimpan identitas bangsa. Ada persatuan yang mempertemukan begitu banyak perbedaan—suku, agama, budaya, bahasa, hingga latar belakang sosial.
Di bawah bendera yang sama, seluruh anak bangsa berdiri sebagai satu Indonesia. Karena itu, pembagian Bendera Merah Putih kepada para siswa Sekolah Rakyat menjadi bagian dari upaya menanamkan kesadaran kebangsaan sejak dini.
Khofifah mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hadiah yang datang begitu saja. Kemerdekaan lahir dari perjuangan panjang dan pengorbanan para pendahulu bangsa. Karena itu, generasi hari ini memiliki tugas untuk menjaga apa yang telah diperjuangkan tersebut.
“Ketika generasi muda memahami bahwa kemerdekaan diraih melalui perjuangan yang panjang, mereka akan semakin menyadari bahwa persatuan dan kesatuan adalah modal utama untuk menjaga Indonesia tetap kuat,” katanya.
Di tangan anak-anak Sekolah Rakyat, Bendera Merah Putih itu kemudian menemukan makna baru. Ia bukan hanya simbol masa lalu, melainkan juga janji tentang masa depan.
Tantangan Zaman Tak Lagi Berupa Senjata
Perjuangan generasi sekarang, kata Khofifah, tentu berbeda dengan perjuangan para pahlawan dahulu.
Jika dahulu para pejuang harus mengangkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan, anak-anak Indonesia hari ini menghadapi medan perjuangan yang berbeda.
Kemajuan teknologi membawa banyak manfaat, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan baru. Hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, hingga narasi provokatif dapat menyebar dengan cepat dan menjadi ancaman bagi persatuan.
Karena itu, semangat Bhinneka Tunggal Ika tidak boleh berhenti menjadi semboyan yang terpampang di dinding sekolah. Ia harus tumbuh dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
“Semangat Bhinneka Tunggal Ika harus terus dihidupkan. Bendera Merah Putih adalah salah satu hal yang mempersatukan kita semua dari berbagai perbedaan di antara kita semua. Kita memiliki bendera yang sama,” tutur Khofifah.
Di tengah derasnya arus informasi, anak-anak tidak hanya membutuhkan kecerdasan akademik. Mereka juga membutuhkan karakter, daya tahan, dan kemampuan memilah informasi.
Sebab, menjaga Indonesia hari ini tidak selalu berarti berada di medan perang. Kadang, perjuangan itu sesederhana tidak ikut menyebarkan kabar bohong. Tidak mudah terprovokasi. Tidak membenci hanya karena perbedaan. Dan yang paling penting, terus belajar. Dari Sekolah Rakyat untuk Masa Depan Bangsa
Khofifah secara khusus menaruh perhatian pada para siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi. Bagi dia, pendidikan bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan di dalam ruang kelas. Pendidikan juga tentang menanamkan nilai perjuangan, kerja keras, disiplin, dan keberanian untuk tidak menyerah pada keadaan.
“Ini akan mengajarkan bahwa untuk mendapatkan sebuah kemerdekaan, sesuatu yang kita inginkan itu ada perjuangan dan pengorbanan yang harus terus diupayakan,” katanya.
Pesan itu terasa sederhana, tetapi menyimpan makna yang panjang. Anak-anak yang hari ini berdiri sambil memegang Merah Putih adalah generasi yang kelak akan mengisi ruang-ruang penting bangsa.
Mereka mungkin tidak akan mengenakan seragam perang. Mereka tidak perlu mengangkat senjata. Namun, mereka akan memiliki medan perjuangannya sendiri.
Ada buku yang harus dibaca. Ada pelajaran yang harus dipahami. Ada keterampilan yang harus diasah. Ada prestasi yang harus dikejar. Ada inovasi yang harus dilahirkan.
“Para siswa tidak ikut turun mengangkat senjata untuk melawan terorisme, tapi mereka harus belajar dan berusaha keras untuk meraih prestasi, berinovasi, dan tidak mudah termakan isu negatif dan provokatif,” ujar Khofifah.
Merah Putih dan Sebuah Harapan
Di antara tangan-tangan kecil para siswa, Bendera Merah Putih itu berkibar. Barangkali ukurannya tidak besar. Namun, harapan yang dibawanya jauh lebih besar.
Harapan agar anak-anak Sekolah Rakyat tumbuh dengan kesempatan yang setara. Harapan agar mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi kelak menjadi bagian dari mereka yang menggerakkan pembangunan.
Khofifah berharap bendera yang dibagikan hari itu menjadi simbol sekaligus motivasi bagi para siswa untuk terus belajar dan mengembangkan potensi.
Sebab, Indonesia yang dicita-citakan pada 2045 bukan hanya milik mereka yang hidup hari ini. Indonesia Emas adalah Indonesia yang kelak akan berada di tangan anak-anak yang sekarang masih duduk di bangku sekolah.
“Ini adalah simbol, motivasi bahwa masa depan bangsa ini, masa depan negara ini ada di tangan mereka. Mereka harus bertumbuh dengan baik, mendapatkan akses pendidikan yang setara dan layak. Indonesia Emas 2045 ada di tangan mereka,” pungkas Khofifah.
Maka, ketika Merah Putih kembali berkibar di halaman Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Pasuruan, yang bergerak bukan hanya selembar kain diterpa angin. Ada cita-cita yang sedang ditanam. Ada semangat yang sedang diwariskan.
Dan ada masa depan Indonesia yang perlahan-lahan sedang dipersiapkan—dari ruang-ruang kelas, dari tangan anak-anak, dan dari mimpi-mimpi kecil yang suatu hari diharapkan tumbuh menjadi kekuatan besar bagi negeri. (AN)



